Hey, Kami Menjual Tradisi!

Dipublikasikan pada : 2016-11-16

Hey, Kami Menjual Tradisi!

Ilustrasi © Madzae


RABU SIANG, kondisi cuaca terasa panas, meskipun langit menampakkan hal yang sebaliknya. Gumpalan awan hitam pekat menggelayuti kota ini. Sehari yang lalu, hujan mengguyur seluruh kota dari pagi sampai malam.

Saat itu, saya berada dalam sebuah angkutan kota atau angkot yang tengah terjebak dalam lalu-lintas yang melelahkan. Di depan ada beberapa sekolahan yang berlokasi persis di depan jalan raya.

Tak ayal, saat jam pulang sekolah seperti saat ini, jalanan menjadi macet disebabkan oleh angkutan kota yang ngetem di sembarang tempat mencoba merayu anak-anak sekolah untuk segera menaiki angkot mereka.

Ada yang unik saat saya kepanasan dalam angkot yang saya tumpangi yang terjebak kemacetan tersebut.

Di luar, para pelajar sekolah dasar (SD) yang baru pulang sekolah, berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan. Sambil sesekali menyembul diantara mobil-mobil yang terjebak macet, para pelajar tersebut memakai seragam yang tak biasa.

Anak laki-laki menggunakan seragam hitam-hitam, dihiasi ikat kepala yang dibuat dari kain batik dengan mengikuti pola melingkar di kepala mereka.

Sementara para perempuan memakai baju kabaya, kebanyakan berwarna putih. Lengkap dengan motif apik yang menghiasi pinggiran baju tersebut. Tak lupa pula, kain batik mereka kenakan menggantikan rok warna merah khas seragam SD.

Seketika saja, hawa panas yang saya rasakan di dalam angkot, berubah menjadi senyum kecil melihat aak-anak SD tersebut. Meskipun memang tak semua anak sekolahan yang saya lihat, memakai pakaian yang demikian.

Beberapa sekolah dasar yang dilalui rute angkot tersebut, saya menemukan banyak anak-anak yang memakai seragam unik tersebut. Meski harus diakui, jumlahnya memang lebih sedikit dibanding mereka yang tidak memakai dan hanya memakai seragam sekolah seperti biasa.

Bukan hanya anak-anak sekolahan saja ternyata, banyak juga beberapa orang yang saya temui selepas turun dari angkot, mengenakan pakaian yang sama. Mulai dari bapak-bapak petugas keamanan kantor ---yang memakai ikat kepala yang sama seperti anak laki-laki SD--- juga beerapa orang yang terlihat seperti pegawai negeri memakai pakaian yang serupa dengan anak sekolahan yang saya temui.

REBO NYUNDA, adalah sebuah program yang digagas pemerintah Kota Bandung di bawah kendali walikota Ridwan Kamil. Dalam program ini, masyarakat Bandung diwajibkan menggunakan bahasa Sunda seharian penuh di hari rabu. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk menggunakan atribut kebudayaan Sunda yang menjadi ciri orang Sunda.

Ikat kepala atau orang Sunda menyebutnya sebagai “Iket” dan juga seragam hitam-hitam atau masyarakat kenal sebagai “baju Pangsi.”

Bagi sebagian orang, program rebo nyunda diapresiasi dengan antusias. Mengingat, kebudayaan Sunda yang menjadi ciri orang Sunda kian tergerus oleh arus modernisme yang semakin gencar.

Bandung yang merupakan kota besar di Indonesia dan dianggap sebagai basis utama masyarakat Sunda perkotaan. Namun, kota yang menjadi basis utama kebudayaan Sunda tersebut, kini kian tergerus oleh ekspansi para kaum urban yang menyerbu Bandung.

Sebuah kota mengapresiasi kebudayaannya dengan cara yang berbeda. Dalam suatu penelitian. Bandung dan Medan dijadikan rujukan utama bagaimana dua kota besar di Indonesia ini, mengintrepretasi kebudayaan yang mereka miliki.

Hasilnya, Medan tak memiliki kebudayaan utama yang mendikte kehidupan masyarakat Medan. Di sana, banyak kebudayaan berbeda yang hidup dalam kerangkanya masing-masing. Tidak ada yang dominan.

Sedangkan di Bandung, dalam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa Sunda sangat dominan. Bahkan, pendatang yang berada di Bandung dipaksa untuk bisa mengadopsi kebudayaan Sunda dalam kehidupan bermasyarakat.

Sialnya, penelitian tersebut dilakukan sudah cukup lama. Dan kian hari, Kota Bandung kehilangan jati dirinya sebagai suatu kota yang memiliki kebudayaannya sendiri.

Lo-Gue melesat mengalahkan Urang-Maneh.

Kini, untuk memperkuat kedudukan Sunda yang disadari kian tergerus, rebo nyunda diharapkan bisa memberikan angin segar bagi generasi penerus tentang kebudayaan Sunda.

Namun, dalam sebuah akun media sosial, Iwan Pirous, seorang Antropolog Universitas Indonesia melihat fenomena rebo nyunda sebagai ketakutan terhadap terjangan globalisasi.

Rebo nyunda lebih merupakan purisitas etnis serta etnosentrisme belaka dan menghiraukan kenyataan bahwa Bandung kini adalah kota yang majemuk dan dihidupkan oleh orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda.

TERIK MATAHARI menyengat sangat dalam di kulit di siang tersebut. Orang-orang yang hendak beraktifitas di luar ruangan, akan berpikir dua kali untuk beraktifitas di siang hari tersebut.

Di depan sebuah museum yang cukup terkenal di Bandung, jejeran para penjual cinderamata bagi para pelancong memamerkan dagangannya.

Beberapa pedagang cukup agresif menawarkan barang dagangan hingga mengikuti calon pembeli.

Beberapa memilih untuk diam dan hanya menunggu pembeli yang benar-benar tertarik untuk membeli.

Saat itu Kang Imet, seorang pedagang di sekitaran Museum Geologi Bandung, sedang menikmati makan siangnya. Seporsi kupat tahu menjadi pilihan Kang Imet siang itu.

Dengan santai, Kang Imet menjawab pertanyaan saya perihal dagangannya yang identik dengan kebudayaan Sunda.

Sambil sesekali menunjuk pada dagangannya, Kang Imet bercerita bahwa Iket kepala dan baju Pangsi adalah dua komoditas unggulan yang dijualnya. “Sekarang mah udah masuknya ke trend. Pertama trend dulu, budaya jadi mulai diangkat lagi. Kebanyakan yang bilang ikutin trend. Padahal dari dulu udah ada”.

Bagi Kang Imet dan kebanyakan pedagangan sejenis, berjualan Iket dan baju Pangsi adalah cara mereka melestarikan budaya Sunda sekaligus mencari nafkah. Mereka merasa miris melihat perkembangan zaman yang kian melupakan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan leluhur untuk kegerasi mendatang.

“Kalo ngga pake iket, bukan orang sunda. Walaupun mau dipake di kepala, disamper di leher” kilah Kang Imet tentang dagangannya tersebut.

Bukan cuma masyarakat Bandung, komoditas yang cukup mencolok tersebut juga menjadi perhatian orang-orang luar Bandung yang kebetulan melintas.

Keunikan dan “keanehan” yang dihadirkan mampu menarik bayak orang. Setidaknya untuk berhenti sejenak dan bertanya, barang apa yang dijual tersebut.

“Kebanyakan orang luar juga suka. Kemarin Thailand, Inggris, Jerman” ucap Kang Imet mengingat wisatawan-wisatawan mancanegara yang membeli dagangannya.

Program rebo nyunda, mendongkrak penjualan komoditas kebudayaan tersebut. “Dari dulu udah lumayan rame, sekarang lumayan. Selain (dagang) di jalan, banyak pesenan diluar, kemarin sama Partai buat calon (DPR). Kalo saya ngejual Rp. 100.000 (buat) dewasa, (anak-anak) Rp. 80.000-85.000 (Iket) Rp. 20.000. Omset perhari, kalo sepi Rp. 300.000-400.000, yang rame bisa diatas 1 (juta)”.

BAGI KEBANYAKAN masyarakat Sunda kini, Iket kepala dan Pangsi adalah sekedar pakaian leluhur mereka dan kini hanya sebatas digunakan untuk kegiatan-kegiatan tertentu saja. Dari sudut pandang lain, pakaian tersebut hanyalah ornamen dekoratif semata.

Jika Anda sulit membayangkannya, tengoklah apa yang dikenakan masyarakat Baduy di Kanekes Banten. Mereka sehari-hari memakai pakaian hitam-hitam (dan terkedang putih-putih) yang dilengkapi dengan ikat atau disebut iket kepala.

Beberapa orang menyakini bahwa tradisi berpakain seperti itu ialah warisan dari Pangeran Siliwangi atau Prabu Siliwangi. Hingga akhirnya melahirkan nama “pangsi” pada pakaian yang mereka kenakan. Sebagian yang lain menyakini bahwa arti “pangsi” yang benar adalah Panglima Sliwangi.

Arti yangbelakangan ini bisa merujuk pada dua kemungkinan. Bahwa Pangeran Siliwangi atau Prabu Siliwangi merupakan raja Pajajaran yang memimpin peperangan dalam kaitannya mempertahankan Kerajaan atau menghadapi serangan musuh.

Bisa juga dikaitkan dengan keberadaan Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi yang memang berpusat di Bandung.

Kodam Siliwangi sendiri memiliki reputasi yang masyur secara nasional. Disanalah cikap bakal pasukan elit TNI (Kopassus) terbentuk.

Tapi mengaitkan pakaian Pangsi dengan keberadaan Kodam Siliwangi agaknya sulit untuk diterima. Mengingat, masyarakat Baduy yang mendiami wilayah Kanekes di Banten dan dianggap sebagai suku tradisional Sunda dan sering dikait-kaitkan dengan sebaran Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri akibat ekspansi Kerajaan Mataram, mementahkan hal itu.

Tentu, keberadaan masyarakat Baduy lebih dahulu hadir dibanding terbentuknya Kodam Siliwangi. Maka, rujukan Pangsi yang pas adalah Pangerang Siliwangi atau Prabu Siliwangi. Lantas siapa dia?

Prabu Siliwangi adalah raja Kerajaan Pajajaran. Ia seringkali dikait-kaitkan dengan sosok Maung atau harimau yang melegenda dalam masyarakat Sunda.

Maung Siliwangi yang sering dikaitkan diyakini sebagai sosok siluman yang berwujud harimau putih.

Belakangan, Maung telah menjadi sombol dalam kebudayaan Sunda saat ini.

Namun, hal demikian kurang disertai bukti sejarah yang kuat. Dadang Ibnu, seorang tokoh Sunda yang bersahabat dengan Otto Iskandardinata menyakini bahwa Maung benar-benar simbol masyarakat Sunda.

Sementara banyak tokoh lain yang menyakini bahwa burung gagak atau gajah lebih tepat mewakili simbol masyarakat Sunda.

Beberapa masyarakat sendiri lebih percaya bahwa Maung merupakan jelmaan Prabu Siliwangi setelah ia moksa. Namun apapun itu, Prabu Siliwangi memang terikat kuat dengan Kerajaan Pajajaran. Banyak yang mengaitkan bahwa Kerajaan Pajajaran runtuh karena dibawa Prabu Siliwangi moksa.

Namun pendapat itu bisa dipatahkan dengan nama yang melekat pada sang Prabu itu sendiri. Prabu Siliwangi bukan merupakan nama asli. Prabu Siliwangi lebih merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata.

Ialah yang mempersatukan Kerajaan Sunda dan Galuh di bawah kekuasaannya. Maka, untuk mengenang kehebatan sang Prabu, nama Siliwangi diberikan. Nama ini diambil dari kata Sili atau silih (pengganti) dan Wangi.

Nama Wangi sendiri merujuk pada Prabu Wangi alias Prabu Wastukancana, pendahulu Prabu Jayadewata yang memiliki reputasi mentereng. Untuk mengenang kehebatan Prabu Jayadewata, maka ia dianggap pantas sebagai pewaris resmi Prabu Wangi tersebut. Jadilah nama Prabu Siliwangi melekat pada Prabu Jayadewata yang berkuasa 1482-1521.

Namun, nama Prabu Siliwangi pun memiliki penentangnya tersendiri. Nama itu diyakini bukan nama yang benar-benar disandang Prabu Jayadewata.

Nama Siliwangi muncul dalam Kropak 630, karya sastra pantun Sunda dimasa itu.

Nama Siliwangi diyakini hanya nama pujian dari para pujangga semasa itu.

Dan yang mengaitkan Prabu Siliwangi dengan keruntuhan Kerajaan Pajajaran juga bisa disingkirkan, mengingat selepas Prabu Siliwangi ada beberapa penerusnya yang menjalankan roda Kerajaan Pajajaran.

Tapi ada satu hal yang diyakini mayoritas masyarakat Sunda kini, bahwa Prabu Siliwangi memang merupakan seorang raja yang memiliki kesaktian.

Salah satu yang unik adalah persoalan pakaian apa yang digunakan kala itu. Apakah Prabu Siliwangi beserta pengikutnya dan rakyatnya mengenakan Iket kepala dan baju Pangsi? Untuk hal ini paling tidak kita bisa merujuk pada suku Baduy.

Bukan rahasia umum bahwa Suku Baduy menggunakan baju Pangsi serta Iket kepala dalam keseharian mereka. Terlebih, seorang ahli bernama Pleyte mengemukakan bahwa orang Baduy merupakan suku yang berasal dari daerah Bogor sebagai pusat Kerajaan Pajajaran.

Mereka melarikan diri ke perbukitan di sekitar Gunung Pangrango, arah barat daya dari kota Bogor sekarang. Hal ini diperkuat oleh keberadaan Arca Domas yang berada di sekitar hutan masyarakat Baduy.

Maka, dalam struktur masyarakat Baduy, terdapat istilah Baduy Dalem. Maksud Dalem disini bukan diartikan sebagai “dalam”, melainkan diartikan sebagai Kesatria.

Diyakini bahwa orang Baduy merupakan para kesatria Kerajaan Pajajaran yang pergi kesekitaran gunung Pangrango tersebut.

Dan saat ini, orang Baduy merupakan salah satu suku yang konsisten mempertahankan tradisi mereka.

Seorang peneliti bernama Suria Saputra yang melakukan wawancara dengan ketua adat Baduy mengungkapkan bahwa merekalah Sunda, dan Sunda menurut pandangan orang Baduy adalah mereka yang berdarah, berbahasa, bertanah air, beradat, dan beragama Sunda. Penggunaan Iket kepala dan baju pangsi diyakini sebagai bagian dari adat Sunda.

TRADISI MEMANG tak sepenuhnya bergandengan tangan secara harmonis dengan ekonomi.

Lihatlah Bali yang dikritik karena terlalu memuja budaya sebagai komoditas dagang. Persawahan di Ubud yang kian tergerus ekspansi-ekspansi perseroan yang kian menggurita.

Tengok pula berbagai destinasi wisata yang hanya yang menjadi lokasi “pembuangan sampah” baru bagi para pengunjungnya.

Atau coba tengok upacara keagamaan di Candi Borobudur yang “diganggu” para juru foto karbitan.

Tapi setidaknya, ada hawa sejuk di balik itu semua. Ada satu hal yang paling saya ingat saat saya bertemu Kang Aris. Ia salah seorang penjual Iket kepala dan baju Pangsi di pinggiran jalan raya.

Katanya mempertahankan tradisi, adalah sebuah kebanggan. Bagi saya, apa yang diutarakan Kang Aris memang benar. Biarlah Iket kepala dan baju Pangsi menjadi komoditas. Dan orang-orang seperti Kang Aris bisa memperoleh penghasil dengan kebudayaan yang telah menjadi komoditas tersebut.

Toh dengan ramainya orang-orang yang latah untuk membeli suatu produk kebudayaan, kita bisa menaruh harapan pada mereka. Berlajarlah dan cari tahu apa cerita di balik produk kebudayaan yang mereka beli.


Baca Juga

    Di Laut Ada Orang Laut
    Ketika Zombie Menyerang Dunia Maya
    Seberapa Mahal CGI?

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16