Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"

Dipublikasikan pada : 2017-01-10

Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"

Ilustrasi © Madzae


Di zaman kiwari, layanan streaming sudah menjadi santapan sehari-hari masyarakat. Mulai dari menonton video di Youtube, menonton film di Netflix, atau mendengarkan musik di Spotify. Kita pun bahkan sering menyaksikan acara “live streaming” di Facebook.

Dari yang gratisan seperti Youtube dan Vimeo (yang masih diblokir Telkom). Hingga yang berbayar semisal Netflix dan Spotify (Spotify menyediakan versi gratisan yang memiliki banyak keterbatasan) kita nikmati dengan penuh keceriaan.

Namun, tentu menikmati layanan streaming berbeda manakala kita menikmati tayangan-tayangan di televisi publik atau pun mendengarkan musik kesukaan di radio-radio kesayangan kita. Baik televisi maupun radio, hampir semuanya memberikan kita hiburan secara cuma-cuma. Tentu, ada beberapa televisi berbayar yang bisa kita nikmati, namun maksud gue di sini adalah televisi publik yang memang gratis untuk kita tonton, sebut saja NET atau Indosiar.

Layanan streaming yang kita nikmati secara gratis, sejatinya tidak benar-benar gratis. Apalagi layanan streaming yang mewajibkan pengaksesnya membayar biaya bulanan. Selain biaya bulanan yang disyaratkan, sesungguhnya ada “harga” lain dari layanan streaming yang kita nikmati. Apa itu? Kuota internet!

Cliff Tam (seorang technology enthusiast), seperti yang dipublikasikan di blog pribadinya, melakukan penelitian sederhana tentang seberapa banyak kuota internet saat melakukan streaming video di Youtube menggunakan Netlimiter, sebuah aplikasi pembatas kuota internet.

Dari hasil penelitian sederhana tersebut diketahui ada beberapa perbedaan kuota yang tersedot saat kita memutar video di Youtube. Seperti kita ketahui, Youtube memberikan opsi kualitas video yang akan diputar penggunanya. Video berkualitas Standar Definition (SD) 480p menyedot kuota hingga 7.70 MB per menit. Video berkualitas High Definition (HD) 720p mengkonsumsi kuota hingga 14.50 MB per menit, dan HD 1080p menghabiskan kuota hingga 27.61 MB per menit.

Satu video HD 720p berdurasi 10 menit saja, kira-kira akan menghabiskan 145 MB sekali tayang. Jika kita memutar kembali, tentu kuota yang terpakai tinggal dikalikan saja. Dan dalam sehari, tentu kita juga tidak hanya menonton satu video di Youtube bukan? Kuota yang besar, dibutuhkan saat kita mengakses Youtube.

Lalu, bagaimana dengan Netflix dan Spotify? Dikutip dari situs resmi Netflix, setidaknya ada beberapa macam jenis bagaimana kita menikmati film. Pertama, kita menikmati film dari Netflix dengan tayangan kualitas rendah. Kira-kira, kuota yang akan terpakai dari jenis ini mencapai 0,3 GB per jam. Selanjutnya yakni tayangan kualitas medium. Di tahap ini, film yang kita konsumsi menghabiskan kuota hingga 0,7 GB per jam. Sedangkan saat kita menikmati film-film di Netflix dengan kualitas High Definition, kuota yang kita habiskan berkisar lebih dari 3 GB per jam.

Anggap saja kita sedang menonton Stranger Things dengan kualitas “medium” yang berjumlah 8 episode dengan durasi tayang per episode adalah satu jam (untuk mempermudah kalkulasi). Maka, untuk mengetahui secara menyeluruh jalan cerita serial tersebut, setidaknya kita bakalan menghabiskan kuota hingga 5,8 GB.

Spotify, sebagai yang terdepan dalam layanan streaming musik, memiliki beberapa opsi kualitas musik yang akan kita dengarkan. Pertama yakni kualitas normal dengan bit rate 96 kbps (kilo bites per second), High dengan 160 kbps, dan Extreme dengan 320 kbps. Bit rate yang berbeda tersebut, memberika kita kualitas suara yang berbeda di telinga. Semakin tinggi, semakin bagus.

Dikutip dari Gizmodo, sebuah lagu di Spotify dengan bit rate 320 kbps (opsi terbaik yang diberikan Spotify) menghabiskan kuota hingga 2,40 MB per menit. Rata-rata, sebuah lagu memiliki durasi 4 menit. Artinya, sebuah lagu yang kita dengarkan dari Spotify dengan kualitas terbaik, menghabiskan kuota hingga 9,6 MB. Sudah pasti, mendengarkan lagu tidak akan cukup hanya sekali dan satu lagu saja. Akibatnya, kuota yang besar juga diperlukan saat mengakses Spotify.

Layangan streaming, memiliki harga yang tersembunyi saat kita menikmatinya. Kuota internet! Tentu kuota internet akan jadi angin lalu jika kita mengakses layanan-layanan tersebut memanfaatkan “Wifi” gratisan di kampus maupun di kantor.

Telkomsel, perusahaan telekomunikasi selular terbesar di Indonesia ini, menghargai 1 GB kuota internet lebih dari Rp. 50.000 (tarif sesuai lokasi). Jika kita menambahkan dengan harga layanan per bulan dari Netflix sekitar Rp. 139.000 per bulan atau layanan Spotify Rp. 49.990 per bulan, tentu uang yang kita keluarkan menjadi jauh lebih banyak. Belum lagi saat kita “rakus” saat menikmati tayangan-tayangan streaming tersebut. Biaya kuota yang harus kita keluarkan akan membengkak dengan sendirinya.

Begitupun dengan Youtube. Meskipun kita menikmatinya secara gratisan. Kuota yang kita pergunakan untuk memutar video di Youtube bukanlah barang gratisan. Artinya, Youtube sebenarnya juga mensyaratkan “biaya” saat kita memakai layanan mereka.

Jadi, sudah berapa banyak kuota dan uang yang dikeluarkan untuk menikmati kesenangan tersebut? Mahal bukan?

Catatan: Tulisan ini tidak mengikut-sertakan “tagihan listrik” untuk menghidupkan perangkat elektronik yang dipakai mengakses layanan streaming. Ingat pula, Telkomsel juga ikut memblokir Netflix, kalkulasi di atas hanyalah ilustrasi.


Baca Juga

    Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia
    Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!
    Penista Agama Itu Bernama Negara

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16