Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Dipublikasikan pada : 2016-12-15

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Ilustrasi © Madzae


Mungkin inilah waktu yang tepat untuk para sopir angkot, bus, truk, taxi, uber, bahkan sopir pribadi untuk saling merangkul satu sama lain. Membuat paguyuban atau organisasi masa tidaklah buruk-buruk amat bagi mereka. Pasalnya, di tahun 2017 bagi Tesla, tahun 2019 bagi Baidu, tahun 2021 bagi Ford, atau kapan pun bagi Google, mereka semua siap memasarkan produk terbaru nan revolusioner di abad ini, apalagi kalau bukan mobil swakemudi atau self-driving car.

Tunggu, mengapa tidak ada tahun pasti bagi Google? Jawabannya memang Google sendiri yang tahu. Tapi percayalah, soal mobil yang bisa berjalan tanpa pengemudi ini, Google berada paling depan. Ialah lokomotif di segmen ini. Saat perusahaan dunia lain belum menaruh perhatian bagi mobil otomatis, Google hadir seorang diri. Kini lihat, banyak sekali perusahaan yang bermain di segmen ini. Mulai dari perusahaan otomotif yang sudah mapan seperti Ford, GM, Mercedes, bahkan Fiat, hingga perusahaan kemarin sore macam Uber dan berbagai perusahaan rintisan terbaru lainnya.

Setelah 8 tahun pengembangan dan telah menempuh lebih dari 3,2 juta km, Google akhirnya melangkah ke tahapan berikutnya. Ia membuat perusahaan baru di bawah perusahaan induk, Alphabet, dengan nama Waymo. Yup, Waymo merupakan perusahaan baru Google (lebih tepatnya perusahaan milik Alphabet) yang fokus pada pengembangan mobil swakemudi mereka. “Kami adalah perusahaan mobil swakemudi dengan misi membuat (mobil) aman dan nyaman bagi tiap orang” ujar John Krafcik, CEO Waymo kepada Wired.

Waymo didirikan untuk mengembangkan dan membuat nyata mobil swakemudi yang bertahun-tahun dikembangkan Google untuk memenuhi berbagai keperluan, seperti untuk digunakan layanan “ride-sharing” seperti Uber, Grab, dan bahkan Go-Car (dari Go-Jek), untuk keperluan logistik (truk swakemudi), dan tentu saja untuk digunakan secara personal.

Tentu bukan cuma itu saja mengapa Google membentuk Waymo atau mengembangkan mobil otomatis. Salah satu filosofi Google membuat mobil swakemudi tak lain ialah Google ingin meminimalisasi kecelakan akibat “human error” dalam dunia transportasi. Di seluruh dunia, lebih dari sejuta orang terlibat kecelakan tiap tahunnya. Secara statistik, 9 dari 10 kecelakaan mobil, disebabkan oleh kelalaian manusia. Menurut studi yang dilakukan oleh Virginia Tech, mayoritas “human error” yang menjadi musabab kecelakaan adalah faktor emosional. Dengan kehadiran mobil swakemudi, Google ingin menghilangkan “human error” dan menyingkirkan orang-orang yang tidak bisa menyetir dari bangku pengemudi.

Self-driving car Google bukan tanpa cela, beberapa kali ia mengalami kecelakaan. Hingga Januari tahun ini, tercatat telah 17 kali mobil swakemudi Google mengalami kecelakaan. Namun perlu diingat, mayoritas kecelakaan mobil swakemudi Google disebabkan oleh “human error” dari para pengemudi lain di jalanan. Mereka kadang bengong melihat mobil Google bagaikan dikemudikan makhluk tak kasat mata. Kecelakaan pun tak bisa dihindarkan.

Beradanya Google (atau Waymo) dalam posisi terdepan, bukanlah perkara yang mudah tentu saja. Tapi, untuk menduduki posisi tersebut, Google memiliki “senjata” yang tidak dimiliki rival-rivalnya, termasuk Apple atau Tesla sekalipun. Dalam proses pengembangan mobil “autonomous” Google harus memetakan setiap senti dari tiap jalanan yang hendak mau mereka lewati. Artinya, Google diharuskan untuk memetakan setiap senti dari setiap jalan di seluruh dunia. Dan ya tentu saja, Google memiliki Google Maps, Google Earth, dan Google Street View. Mereka telah memilikinya bertahun-tahun sebelum memutuskan untuk mengembangkan mobil swakemudi.

Tapi tentu saja, membuat mobil apalagi dengan fitur bisa mengemudi sendiri, bukanlah persoalan yang sederhana. Google tidak memiliki rekam jejak membuat kendaraan roda empat. Dalam proses uji coba, Google bahkan pernah beberapa kali “meminjam” mobil dari pabrikan otomotif. Sebut saja Toyota Prius dan Lexus Rx untuk menguji coba sistem swakemudi mereka. Hingga, ya, Google akhirnya membuat purwarupa mobil swakemudi yang mungil dan menggemaskan itu.

Tapi Google belum benar-benar pede. Alih-alih membuat mobil asli buatan mereka sendiri, Google kini bekerja sama dengan Fiat Chrysler. Setidaknya, kerja sama antara Google dan Fiat, membuahkan 100 mobil Chrysler Pasifica Hybrid minivan bisa berjalan sendiri. Google nampaknya belum yakin betul dengan apa yang telah mereka miliki sekarang. Kerja sama dengan Fiat diyakini sebagai cara Google mendulang data yang selama ini belum mereka miliki.

Minivan buatan Fiat merupakan suatu ujian bagi Google. Minivan memiliki poin kunci dari pengembangan swakemudi, tak lain adalah “keluarga.” Banyak keluarga di Amerika Serikat, menggunakan minivan sebagai sarana transportasi mereka. Dengan bekerja sama, Google bisa mendulang data bagaimana suatu keluarga, memanfaatkan mobil mereka dalam keseharian. “Pengalaman dari kedua perusahaan akan menumbuhkan bagian fundamental bagi teknologi otomotif” cetus Sergio marchionne, salah satu petinggi Fiat. Minivan buatan Fiat plus Google tersebut, akan digunakan untuk mengekur sejauh mana mobil swakemudi siap lalu-lalang di jalanan dan dipercaya tiap keluarga di dunia.

Seperti yang gue katakan, Google tidaklah seorang diri. Ada banyak nama yang juga turut meramaikan segmen ini.

Tesla, perusahaan yang dimiliki Tony Stark di dunia nyata (Elon Musk) ini, memiliki Tesla Model S dan Model X yang diklaim oleh Musk sebagai mobil swakemudi 100 persen. Mobil listrik plus swakemudi Tesla, menggunakan radar, kamera, sensor ultra sonik, dan software ciamik buatan mereka. Selain itu, mobil masa depan tersebut juga diperbarui dengan dipergunakannya prosesor Nvidia Tegra terbaru. Dengan bekal teknologi demikian, mobil-mobil canggih Tesla dapat berjalan mengikuti tanda-tanda jalan, mengatur jarak dengan kendaraan lain, dan tentu saja bisa parkir sendiri. Tak heran, Musk bahkan bilang bahwa mobil buatannya bisa berjalan “tanpa disentuh pengemudi sekali pun.”

Musk pun melabeli mobilnya jauh lebih aman dua kali lipat dari pada mobil biasa. Tapi tentu, ia harus kecewa dengan insiden di bulan Mei lalu saat seorang pengemudi mobil buatannya tewas saat menggunakan mobil Tesla. Tapi ya, Tesla telah “move on” dari kejadian tersebut dan terus memperbaiki kekurangan-kekurangan mobil canggihnya.

Lain Google, lain Tesla, tentu lain lagi dengan Apple. Apple nampaknya malu-malu menampakkan dirinya di segmen ini.

Apple memasuki medan perang di area mobil swakemudi dengan nama “Project Titan” sebuah proyek yang didukung oleh 1.000 lebih teknisi yang bekerja di area rahasia Apple di Sunnyvale, California. “Perusahaan ini berinvestasi penuh untuk riset mengenai mesin yang mampu berpikir secara otomatis dan ya, kami sangat gembira tentang potensi sistem otomatis dalam segala segmen, termasuk transportasi” ucap Steve Kenner, salah satu petinggi Apple kepada The Guardian.

Dan untuk mendukung misi Apple mengejar Google mambuat mobil swakemudi, mereka dikabarkan hendak membeli McLaren. Perusahaan pembuat mobil-mobil keren asal Inggris.

Soal mobil otomatis juga jadi urusan Ford. Pabrikan mobil legendaris asal Amerika Serikat ini tentu tidak mau tertinggal dari perusahaan-perusahaan lain. Apalagi, Ford memiliki rekam jejak sangat panjang di bidang otomotif. Maret 2016 kemarin, Ford membentuk perusahaan rintisan bernama Ford Smart Mobility. Perusahaan tersebut, didapuk pekerjaan untuk membuat mobil swakemudi, nyata bagi Ford. “Kami berpikir ulang tentang model bisnis kami” ujar Mark Field, CEO Ford mengomentari pembentukan perusahaan barunya yang ingin mengejar ketertinggalan dari Google dan kawan-kawan.

Dalam dunia mobil swakemudi, ada pula nama Local Motor yang mengembangkan mobil atau lebih tepatnya minibus Olli yang mereka integrasikan dengan IBM Watson, sebuah superkomputer plus artificial intelligence yang konon memiliki kemampuan ngobrol dengan para penumpang. Selain itu, yup, Mercedes-Benz dengan seri E-Class juga tak mau ketinggalan dengan kue manis yang kelak akan jadi rebutan para konsumen otomotif seluruh dunia.

Dan tentu, mobil bukanlah aplikasi Android atau iOS yang gampang-gampang saja pengaplikasiannya di dunia. Ada regulator yang harus mereka hadapi untuk bisa lalu-lalang di jalan raya.

Lampu hijau diberikan oleh Departemen Kendaraan Bermotor California. Mereka kini tidak mewajibkan pengemudi mobil swakemudi memiliki SIM, asalkan mobil swakemudi yang mereka kendarai telah dinyatakan aman. Dalam rancangan peraturan setebal 112 halaman, ada setidaknya 15 poin tentang keamanan yang harus dipenuhi tiap perusahaan pembuat mobil swakemudi agar bisa memperoleh restu dari regulator.

Dan di Inggris Raya, aturan hampir serupa juga sedang mereka buat. Setidaknya, negeri milik Ratu tersebut mencanagkan akan mengizinkan mobil swakemudi bebas berlalu-lalang di tahun 2020.

Bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya kita harus bersabar. Mobil listrik saja gagal uji emisi, apalagi mobil swakemudi. Dan bagaimana pula nasib Pak Polisi yang sering menilang para pengemudi kendaraan? Lahan basah mereka kan hilang nantinya.

Tapi apa pun yang terjadi, selamat datang mobil masa depan.


Baca Juga

    Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia
    Dunia Perang dan Anak-Anak
    Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16