Dunia Perang dan Anak-Anak

Dipublikasikan pada : 2017-01-02

Dunia Perang dan Anak-Anak

Ilustrasi © Madzae


Dunia memang terkadang tidak berputar sebagaimana mestinya. Terutama dalam persoalan perang. Anak-anak yang seharusnya hidup dengan dikelilingi tawa, harus masuk ke dunia yang sepenuhnya bukan tanggung jawab mereka.

Merekrut anak-anak untuk turut serta dalam medan perang, sedang mengalami peningkatan saat ini. Meskipun harus diketahui bahwa sejak dahulu, anak-anak telah diikut sertakan dalam peperangan.

Sejak Perang Dunia Pertama, Inggris Raya mempekerjakan setidaknya 250.000 anak-anak di bawah umur 18 tahun. Anak-anak tersebut, menjadi bagian perang dengan berbagai spesialisasi. Ada yang bertugas sebagai porter, mata-mata, hingga pengirim pesan. Saat itu, umumnya prajurit anak-anak hanya kebagian tugas-tugas “sederhana.” Hingga Perang Dunia ke-Dua pun, anak-anak kerap dipakai sebagai bagian dari suatu peperangan.

Pasca Perang Dunia ke-Dua. Tepatnya, saat senjata api kian ringan dan murah untuk didapatkan, anak-anak kian masif diikutkan dalam medan perang. Semenjak tahun 1947, AK-47 terjual lebih dari 55 juta unit. Di Afrika, satu unit senjata demikian, dihargai kurang dari $6. Dengan demikian, banyak pasukan atau organisasi atau kelompok militer mensenjatai anak-anak dengan senjata api demikian, yang ringan dan juga murah.

Bukan hanya sebatas pasukan tempur dan menembakkkan senjata yang mereka pegang, anak-anak juga mulai digunakan sebagai tameng bagi pasukan “senior” di mana pun mereka berada. Lawan tentu akan mereka iba saat mereka berhadapan dengan pasukan anak-anak yang bersenjata. Akibatnya, prajurit “senior” bisa leluasa melakukan serangan.

Dalam catatan Komisi HAM untuk anak-anak PBB, tahun 1967 Israel banyak menangkapi anak-anak Palestina. Mereka menggunakan anak-anak hasil penculikan tersebut, guna dijadikan “pelindung tubuh” bagi pasukan Israel.

Di tahun 1988, PBB mencatat setidaknya telah ada 200.000 anak-anak yang menjadi bagian dari pasukan militer di seluruh dunia.

Sejatinya, PBB telah berupaya mengurangi atau bahkan menghilangkan anak-anak dari dunia perang. Banyak negara di dunia, telah menutup pintu bagi anak-anak untuk pasukan militer mereka.

Namun keadaan tidak lebih baik di negara-negara atau wilayahwilayah konflik. Angka terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya organisasi atau kelompok militer anti pemerintah. Beberapa organisasi atau kelompok pemberontak di Afrika, menggunakan jasa anak-anak dalam propaganda mereka. Penggunaan anak-anak juga menghemat biaya karena anak-anak diberi upah oleh organisasi atau kelompok pemberontak tersebut.

Hadirnya anak-anak dalam peperangan atau konflik bukanlah perkara yang sederhana. Mereka terlibat dalam dunia “orang dewasa” tersebut karena beragam faktor yang melatar-belakanginya. Kebanyakan, anak-anak yang menjadi pasukan militer adalah anak-anak yang tinggal di daerah konflik. Suara deru senjata api, sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Dunia “operasi militer” adalah jalan hidup mereka.

Di Uganda, anak-anak yang mengikuti organisasi atau kelompok pemberontak, tergerak karena kelompok itulah yang menjadi pengganti sosok orang tua mereka. Bukan hal yang mengejutkan bahwa anak-anak tersebut butuh sosok orang tua dan organisasi atau kelompok pemberontak hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.

Dan kini, persoalan anak-anak yang menjadi bagian dari dunia militer memasuki babak baru. Babak baru tersebut, dicetuskan oleh ISIS aatau NIIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah. ISIS memenfaatkan “jasa” anak-anak dengan cara yang berbeda dibandingkan organisasi atau kelompok pemberontak mana pun di dunia.

Dikutip dari Newsweek, dari bulan Januari 2015 hingga Agustus 2015 ISIS setidaknya merekrut 1.100 anak-anak untuk menjadi bagian dari mereka sebagai pasukan militer. ISIS tidak memanfaatkan anak-anak tersebut karena mereka gratisan. ISIS justru sebaliknya. Mereka memberi upah anak-anak tersebut. Setidaknya ISIS memberi $250 hingga $350 per anak per bulan.

“Dilaporkan bahwa anak-anak telah secara aktif diarahkan untuk masuk dalam wilayah konflik (untuk menjadi pasukan militer) dengan tawaran hadiah dan upah hingga $400 per bulan” ujar UNICEF dalam sebuah keterangan yang dikutip dari Reuters.

Akibat konflik yang menggelayuti wilayah Irak dan Suriah, banyak orang tua yang sukarela memasukkan anak-anak mereka dalam pasukan militer ISIS tersebut. Selain itu, ISIS juga memberikan “pelajaran tambahan” bagi pasukan anak-anaknya. Anak-anak tersebut, dicuci otaknya dan diberitahukan bahwa mereka menempuh jalan Tuhan. Hingga, anak-anak tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukan merupakan bagian dari “membela Islam.”

Selain itu, ISIS juga memberikan pengajaran bagaimana bertempur melalui video game. Saat anak-anak tersebut dihadapkan dalam situasi peperangan nyata, mereka mengggapnya sebagai suatu kegiatan yang sama dengan apa yang mereka lakukan dalam video game.

ISIS juga memilih beberapa anak-anak dalam pasukan militernya tersebut untuk dijadikan pengantin. Sosok yang akan melakukan aksi peledakan suatu tempat atau lokasi dengan cara bom bunuh diri.

Sialnya, propaganda ISIS terhadap anak-anak, tidak hanya terjadi di Irak dan Suriah sebagai basis utama mereka. Melainkan pula telah melebar ke seluruh negara di dunia. Termasuk juga di Indonesia.

Seperti dikuti dari Kompas, di tahun 2016, Detasemen Khusus 88 setidaknya menangkap 5 anak-anak yang menjadi bagian dari ISIS. Mereka adalah ABS (17) pelaku pembuat bom Thamrin, FL (14) pelaku penyembunyi tersangka pemboman Thamrin, IAH (17) pelaku bom gereja di Medan, Rp (16) pelaku membantu pembuatan bom gereja di Medan, GA (16) pelaku membantu membeli bahan pembuat bom gereja di Medan.

Anak-anak Indonesia tersebut, terpengaruh propaganda ISIS melalui internet, khususnya melalui kanal media sosial. Anak-anak tersebut merupakan bagian dari “remote intimacy” atau “keintiman terpencil.” Mereka menganggap sebagai bagian dari ISIS meskipun tidak pernah berkunjung sekalipun ke Irak atau Suriah.

Keberhasilan ISIS masuk pada anak-anak di Indonesia karena sejatinya, anak-anak masih dalam tahapan pencarian jati diri. Seperti yang disinggung di awal, ISIS mempropagandakan kegiatannya sebagai bagian dari “membela Islam.”

Untuk menghapuskan anak-anak dalam dunia militer atau konflik memang bukanlah pekerjaan mudah. Perlu kerjasama yang erat dari semua elemen masyarakat untuk menghentikan fenomena ini. ISIS telah berhasil mempropaganda anak-anak untuk ikut ke dalam diri mereka. Saatnya, “orang-orang waras” melakukan propaganda tandingan bahwa apa yang dilakukan ISIS dan berbagai organisasi atau kelompok pemberontak adalah salah.


Baca Juga

    Apakah Facebook Membantu Kemenangan Trump (dan Mungkin Kemenangan Jokowi)
    Dunia Perang dan Anak-Anak
    Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16