Di Laut Ada Orang Laut

Dipublikasikan pada : 2016-11-29

Di Laut Ada Orang Laut

Ilustrasi © Madzae


Orang Laut merupakan suatu suku atau kelompok masyarakat yang hidup tersebar di wilayah perairan Asia Tenggara, Semenanjung Malaka, gugusan pulau-pulau di wilayah Laut Cina Selatan, dan sekitaran Pasifik.

Orang Laut dianggap sebagai bangsa Melayu Tua. Dianggap demikian karena suku ini senantiasa menjaga adat-istiadatnya tetap dipertahankan hingga saat ini. Karenanya, tidak terlalu berbeda antara Orang Laut dahulu kala dengan di masa kini.

Orang Laut memiliki banyak sebutan. Paling umum, mereka disebut sebagai suku sampan. Sampan berarti perahu kecil. Perahu kecil tersebut memang biasa mereka gunakan dalam kehidupan kesehariannya mengarungi lautan tempat mereka hidup.

Dalam dunia akademik, suku ini sering disebut sebagai “sea nomad”, “sea folk”, “sea hunter and getherer”, dan “sea gypsies”. Kesemuanya merujuk pada tingkah laku suku ini sendiri. Yakni tidak memiliki tempat tinggal yang tetap karena hidup di laut. Mereka beraktivitas di laut di perahu yang mereka miliki atau disebut “boat dwelling” dan mengandalkan mencari ikan serta hasil laut lainnya sebagai sumber penghidupan mereka.

Sejatinya, mereka hanya sesekali menuju daratan untuk membeli barang kebutuhan yang tidak ditemukan di lautan. Namun kini, banyak dari kelompok Orang Laut yang telah tinggal menetap di wilayah daratan, meskipun tetap dengan jangkauan laut yang dekat dari wilayah daratan tempat tinggal tersebut.

Sistem sosial Orang Laut terbilang baik. Dalam keseharian mereka, tidak ada segregasi yang mencolok. Kesan yang ditampilkan oleh Orang Laut adalah mereka sangat egaliter atau tidak membeda-bedakan apa pun.

Dalam sistem kepeminpinannya, mereka menunjuk seorang kepala suku atau “Bigman” oleh para pengikutnya atau “kinsmen” guna mengorganisir suku tersebut agar mampu memanfaatkan “natural resources” dengan baik, tidak berlebihan, serta dapat dinikmati setiap anggota suku atau kelompok dengan merata.

Salah satu kebudayaan yang menonjol dari Orang Laut adalah “oral culture” atau budaya lisan. Budaya lisan tersebut, diperdengarkan pada anak-anak generasi penerus Orang Laut. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana cara-cara mengarungi laut selayaknya seorang Orang Laut.

Karena yang dikembangkan adalah budaya lisan, agak susah untuk menemukan budaya mereka secara konfrehensif dalam medium kertas atau cetak. Dan budaya lisan juga sangat rentan terhadap perkembangan zaman. Terutama akibat kehadiran negara yang lebih merestui anak-anak Orang Laut, pergi ke sekolahan daripada mengarungi lautan bersama orang tua mereka. Budaya bisa hilang atau terlupakan akibat anak-anak yang seharusnya menerima budaya tersebut lebih memilih sekolah konvensional ala pemerintah. Dan bagi orang tua, dengan tidak meneruskan budaya lisan, sangat mungkin mereka mengalami lupa dari budaya lisan tersebut.

Yang menjadi kendala lain dari Orang Laut adalah adanya sistem administrasi kenegaraan. Dahulu, Orang Laut bisa bebas berkeliaran di lautan tanpa peduli batas-batas negara. Kini, militer menjaga tiap batas negaranya masing-masing. Orang laut dipaksa untuk tidak berlayar terlalu jauh, terutama dari mana mereka mengaku sebagai warga negara. Jika Orang Laut tersebut mengaku warga Indonesia, mereka berlayar hanya sebatas laut-laut di teritorial Indonesia, begitu pun bagi Orang Laut yang mengaku warga Filipina, Malaysia, atau lainnya.

Apalagi kini, menteri kelautan dan perikanan Indonesia yang berlaku tegas bagi siapa saja yang dianggap melanggar teritori Indonesia. Orang Laut yang secara tradisional hidup di laut dan tidak memperdulikan batasan negara, terbentur oleh masalah tersebut. Mereka sering dianggap sebagai nelayan-nelayan ilegal oleh aparat di wilayah perairan Indonesia.

Kalau sudah begini, apakah Orang Laut akan beralih menjadi “Orang Darat” misalnya.


Baca Juga

    Benang Kusut Pembajakan Konten
    Ngeri! Semua Anggota Suku Ini Dicongkel Bola Matanya
    Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16