Di Bawah Bayang-Bayang Drone

Dipublikasikan pada : 2016-12-02

Di Bawah Bayang-Bayang Drone

Ilustrasi © Madzae


Makin hari, teknologi makin berkembang. Kini di Indonesia ada teknologi baru yang menjadi trend. Teknologi tersebut bernama Drone.

Berbagai kalangan di Indonesia menggunakan Drone, mulai dari jurnalis TV yang memanfaatkan Drone untuk memperlihatkan kemacetan kota, fotografer yang ingin mengabadikan keindahan suatu lokasi dari udara, hingga pemuda-pemudi kelas menengah atas yang sekedar selfie menggunakan Drone.

Tapi, yang demikian hanya terjadi di Indonesia dan mungkin beberapa negara lain yang setipe dengan kita. Dan tentu juga terjadi di negara-negara maju, meskipun dengan peruntukan yang jauh lebih baik.

Bagaimana dengan di Pakistan, Afganistan, Irak, dan negara-negara Timur Tengah lainnya? Drone adalah bencana!

Unmaned Aerial Vehicles atau Drone dalam definisi pemerintah Amerika Serikat merupakan “pesawat atau balon udara yang tidak membawa pilot dan memungkinkan untuk dikendalikan secara jarak jauh atau melalui suatu program (komputer) yang telah dirancang sebelumnya.”

Drone, dirancang sebagai bentuk kontraterorisme pemerintah Amerika Serikat untuk melindungi warganya.

Drone, dalam skala yang masif, mulai digunakan di masa pemerintahan Obama di Januari 2009. Di tiga hari pertama pemerintahan Obama mulai mengoperasikan Drone, 9 orang tewas.

Tapi sejatinya, Drone dengan cara penggunaan ala Obama telah lebih dahulu digunakan oleh pendahulunya yakni Presiden Bush. Bush menggunakan Drone sebagai bentuk balasan terhadap tragedi 11 September yang meluluhlantakan Amerika Serikat. Di tahun 2004, Drone digunakan untuk menyerang musuh Amerika Serikat di wilayah Barat Daya Pakistan.

Tapi jika kita merujuk pada definisi pemerintah AS tentang Drone, kita bisa menarik sejarah Drone jauh sebelum era Obama maupun Bush. Drone telah dikenal sejak perang dunia pertama, perang Gulf, dan konflik di Balkan pada tahun 1990. Saat itu, Drone digunakan sebagai alat mata-mata dan pemetaan wilayah musuh.

Dalam sejarah serangan menggunakan Drone, hingga tahun 2013 ada sekitar 2.400 orang tewas akibat Drone versi pemerintah Amerika Serikat. Versi pemerintah Amerika berarti versi minimalis, versi yang memiliki unsur-unsur tersembunyi.

Biro Jurnalis Investigasi yang berbasis di Inggris memiliki angka lain. Setidaknya antara tahun 2004 hingga tahun 2013 ada sekitar 2.525 hingga 3.613 orang tewas akibat Drone. Jauh melampaui angka yang dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat.

Sedihnya, dari total jumlah korban tewas akibat Drone, hanya 12% korban tewas yang diidentifikasi sebagai sasaran yang tepat. Selebihnya, merupakan warga biasa yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Al Qaeda, militan, atau teroris.

Jurnalis, pekerja media, wartawan, warga biasa, anak-anak, dan perempuan adalah golongan yang banyak menjadi korban dari serangan Drone. Bukan militan Al Qaeda, ISIS, Taliban, atau lain sebagainya.

“Kami tidak tahu apa itu Al Qaeda, tapi kami tahu Drone” terang Oum Saeed, seorang ibu muda di Pakistan yang mengungkapkan betapa takutnya ia dan banyak warga lainnya terhadap Drone.

Mohammed Saleh bahkan mengungkapkan bahwa Drone merupakan “mesin pembunuh” yang menghantui orang-orang di wilayah Timur Tengah. Naasnya, paska ia memberikan testimoni, Mohammed tewas terkena serangan Drone.

Media asal Inggris, The Guardian sempat meminta penjelasan pada pemerintah AS melalui Pentagon dan CIA perihal tewasnya Mohammed. Namun, hingga kini pemerintah AS enggan memberi komentar.

Soal korban tewas akibat Drone, awalnya hanya terdapat dua label. Penduduk dan Militan. Namun, seiring bertambahnya korban tewas dan semakin rumitnya serangan yang dilakukan, pemerintah Amerika Serikat menambah satu label lagi, yakni “unknow” atau tidak diketahui. Label tersebut lebih mengerikan karena berarti serangan yang dilakukan tidak dijalankan dengan prosedur yang benar dan menghindari jatuhnya penduduk sipil.

Akibatnya, lebih banyak korban di pihak penduduk sipil daripada pihak militan yang menjadi incaran pemerintah Amerika Serikat. Drone semakin berbahaya. Bahkan bagi penduduk yang tidak bersalah dan tidak tahu-menahu apa pun tentang militan atau teroris.

Drone bagaikan malaikat maut. Di langit yang cerah, misil bisa tiba-tiba datang kapan saja dan di mana saja. Tidak ada batasan yuridiksi. Tidak ada batasan negara. Bahkan mungkin saja, Drone bisa terbang bebas di langit Indonesia. Bukankah Google Maps sudah melakukannya?

Drone melakukan serangan dengan sangat efektif. Bahkan di langit yang cerah pun, sulit untuk melihat Drone dengan mata telanjang. Inilah salah satu keunggulan Drone. Dalam keheningan, langit cerah, dan suasana tenang, bisa berubah seketika menjadi suatu petaka yang membekas.

Di tengah kritikan tentang penggunaan Drone yang banyak melanggar hukum, Amerika Serikat memiliki jumlah Drone yang teramat banyak. Di tahun 2002, Amerika Serikat hanya memiliki 167 Drone. Tahun 2011 mereka memiliki 7.000 Drone yang siap terbang kemana pun Pentagon menghendaki.

Tak heran, wilayah konflik seperti Pakistan dan Irak, sering sekali dikunjungi Drone. Drone adalah senjata yang sangat efektif dan efisien.

“Drone selalu menjadi beban pikiran. Memikirkannya membuatku susah tidur. Drone seperti nyamuk. Bahkan ketika tidak terlihat, kamu bisa mendengarnya. Kamu tahu, Drone ada di sini.” Ucap seorang warga Pakistan yang ketakutan terhadap Drone.

Serangan balasan Amerika Serikat terhadap peristiwa 11 September menjadi semacam titik di mana Drone menunjukkan kengeriannya. Hingga kini, bertahun-tahun sejak serangan 11 September, Amerika Serikat masih menggunakan Drone untuk melakukan serangan “balasan” pada siapa pun yang dianggap ancaman.

Jadi, setelah Pakistan dan Irak berhasil dilumpuhkan Amerika Serikat mengapa Drone belum juga pensiun digunakan? Apa gerangan yang mereka ingin hancurkan di sana? Mungkin kini, Trump tahu jawabannya. Dan berharaplah, Drone tidak terbang ke lagit Indonesia.


Baca Juga

    Memahami Konflik Suriah Secara Sederhana
    Renyahnya Manfaat Tempe
    Selangkah Lagi: Vaksin HIV AIDS Hadir!

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16