Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Dipublikasikan pada : 2017-01-11

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Ilustrasi © Madzae


Di banyak kesempatan, gue sering sekali membaca artikel-artikel (yang umumnya berkaitan dengan dunia ekonomi) yang berhubungan dengan nilai atau harga yang menggunakan Dolar dan mengkonversinya menjadi Rupiah.

Misalnya, harga Lionel Messi adalah sekian Dolar. Agar nampak bekerja giat, si pembuat artikel mengkonversi harga Messi dalam bentuk Dolar tersebut, menjadi Rupiah. Akibatnya, harga Messi yang dalam Dolar kelihatan biasa saja (meskipun tetap wah), menjadi sangat luar biasa mahalnya dalam ukuran Rupiah.

Yang harus digaris-bawahi mengapa kita tidak perlu mengkonversi Dolar ke Rupiah dalam perbincangan-perbincangan ekonomi adalah kedua entitas mata uang tersebut benar-benar berbeda. Dalam artian, masyarakat pengguna dan keadaan lingkungan masing-masing mata uang tersebut, tidak sama satu dengan lainnya.

Di Majalah Natonal Geographic, pernah disebutkan bahwa sebuah keluarga di Amerika Serikat mengalami kekurangan makanan. Mereka, memanfaatkan kupon-kupon makanan untuk melangsungkan kehidupan. Anak-anak dari keluarga tersebut, memanfaatkan jatah makan siang dari sekolah untuk menghemat pengeluaran. Tapi coba tebak berapa pendapatan keluarga tersebut dalam Rupiah? Yup, si keluarga memperoleh Rp. 20 Juta per bulan.

Di Indonesia, dengan pendapatan Rp 20 Juta, seseorang akan dianggap berhasil secara finansial. Sedihnya, keluarga di Amerika Serikat tersebut tidak tinggal di Indonesia dan orang-orang Indonesia tidak mendapatkan pendapatan senilai keluarga di Amerika Serikat tersebut. Dunianya memang beda.

Lalu, bagaimana memahami mata uang satu negara dengan negara lainnya secara mudah “tanpa” mengkonversi nilai suatu mata uang?

The Economist di tahun 1986 memperkenalkan “Big Mac index” untuk memahami fluktuasi mata uang dengan lebih mudah. Big Mac index digunakan untuk mengukur daya beli suatu masyarakat dengan mata uang di negara tertentu terhadap Big Mac, produk burger bikinan McDonald (dan membandingkannya dengan Dolar).

Di bulan Juli 2016, rata-rata harga Big Mac di Amerika Serikat sekitar $5,04. Di Cina, harga rata-rata Big Mac sekitar $2,79. Artinya, mata uang Yuan nilainya berada 45 persen di bawah Dolar. (Intinya), Big Mac index ingin mengetahui seberapa besar “keperkasaan” Dolar terhadap mata uang negara lain melalui jumlah Big Mac yang dapat dibeli menggunakan sekian Dolar di suatu negara. Karenanya, gue kurang suka dengan cara ini.

Adakah cara yang lebih “asik” memahami mata uang satu negara dengan negara lainnya, dalam hal ini, Dolar terhadap Rupiah?

Sebuat saja “Deadpool index.” Index ini memanfaatkan harga tiket bioskop sebagai perbandingan nilai mata uang Dolar terhadap Rupiah (ataupun mata uang lainnya). Begini kira-kira pemikiran tentang Deadpool index.

Di Bandung, harga tiket bioskop jaringan CGV Blitz BEC (Bandung Elektronik Center) seharga Rp. 30.000 (hari senin-kamis ya). Untuk menonton film Deadpool yang tayang di bulan Februari tahun 2016 kemarin, seseorang harus mengeluarkan uang segitu, Rp 30.000. Di belahan bumi lain, tepatnya di New York. Seseorang yang hendak menonton film Deadpool di waktu yang sama membutuhkan uang $13,69 untuk memperoleh tiket di jaringan bioskop AMC.

Jika kita melakukan konversi mata uang antara Rp. 30.000 dengan $13,69 dari Dolar ke Rupiah ataupun sebaliknya, harga tiket Deadpool di New York jauh lebih mahal daripada di Bandung. Namun, coba bandingkan dengan upah minimum masing-masing kota. Mengapa “upah (minimun)”? karena sejatinya, nilai suatu uang yang kita peroleh tergantung dari berapa banyak pendapatan yang kita terima tiap bulan. Menghabiskan Rp. 100.000 saat ngopi-ngopi santai di suatu kafe tentu tidak terlalu memberatkan bagi seseorang yang memperoleh pendapatan Rp. 10.000.000 per bulan. Berbeda dengan seseorang yang memperoleh pendapatan Rp.2.000.000 per bulan bukan?

Di Bandung, upah minimun ditetapkan Rp. 2.630.000 (pembulatan) per bulan di tahun 2016. Sedangkan di New York, upah minimun berada di angka $1.760 (upah minimun NY $11 per jam. Dalam sehari, 8 jam kerja dan 20 hari kerja per bulan) di tahun 2016. Tiket film Deadpool yang dibeli orang Bandung, menghabiskan 1,4 persen dari pendapatan bulannnya. Sementara bagi seorang warga New York, tiket film Deadpool yang dibelinya hanya menghabiskan 0,7 persen pendapatan yang ia peroleh. Artinya, harga tiket Deadpool di waktu yang sama, jauh lebih mahal di Bandung daripada di New York.

Deadpool index memanfaatkan tarif “upah minimum” untuk mengetahui secara pasti nilai suatu mata uang. Berapa banyak uang yang dibutuhkan seseorang untuk hidup layak di suatu tempat, paling baik memang dilihat dari upah minimun yang ditetapkan. Dengan pendapatan minimun sekitar 2 Juta Rupiah per bulan, seseorang di Bandung bisa hidup layak. Tentu nilai ini tidak akan berguna bagi seseorang yang hidup di New York. Mereka membutuhkan pendapatan minimal $1.760 per bulan untuk hidup layak. Inilah “nilar ril” dari mata uang. Bukan semata-mata mengkonversi langsung antara satu mata uang dengan mata uang lainnya. Antara Dolar terhadap Rupiah.

Tapi sesungguhnya, tidak ada index apa pun yang dapat memahami nilai suatu mata uang dan membandingkannya dengan nilai mata uang lain dengan baik. Alasannya adalah karena terlalu banyak produk-produk di dunia ini, yang menggunakan Dolar sebagai standar. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak bule-bule yang dapat berpetualangan antar negara daripada orang Indonesia. Harga tiket pesawat, menggunakan standar Dolar (dan merujuk upah minimun di Amerika Serikat). Akibatnya, orang-orang Indonesia akan terus memandang pergi ke luar negeri adalah sangat mahal. Ilusi mahal, terpatri dalam nilai Rupiah saat menghadapi produk-produk berstandar Dolar.

Dan jika kita memahami Deadpool index, harga pesepakbola dunia Lionel Messi tentu tidak akan “se-Wah” saat ini. Saat di mana harga pesepakbola Barcelona tersebut dikonversi ke Rupiah.

Tapi yang perlu disadari adalah, meskipun menggunakan “Deadpool index” harga Lionel Messi tetaplah sangat mahal. Camkan itu!


Baca Juga

    Terorisme Gaya Baru
    Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!
    Apakah Naga Benar-Benar Nyata?

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16