Dari Mana Begundal Memperoleh Senjata Api?

Dipublikasikan pada : 2017-01-23

Dari Mana Begundal Memperoleh Senjata Api?

Ilustrasi © Madzae


Dari seorang anggota polisi, prajurit militer, perampok, kelompok pemberontak, hingga teroris memanfaatkan senjata api untuk setiap aksi yang mereka lakukan. Senjata api, adalah suatu alat wajib dalam dunia “laki-laki” tersebut.

Dalam banyak kesempatan, senjata api dipakai oleh aparat berwajib untuk melumpuhkan para penjahat yang beraksi. Namun, terkadang pula senjata api dipakai oleh kelompok pemberontak untuk meneror masyarakat sipil agar tunduk terhadap kemauan mereka. Senjata api, ada cerita tentang tangis yang tak berkesudahan hingga saat ini. Pemiliknya (atau penggunanya) merasa berada di atas angin kala memang senjata tersebut. Aparat yang merasa berwibawa, hingga teroris yang merasa kuat.

Jika aparat pemerintah seperti polisi atau prajurit tentara memperoleh senjata api melalui cara-cara yang legal, lalu bagaimana dengan penjahat, kelompok pemberontak, dan teroris memperoleh senjata api mereka?

CJ Chivers, jurnalis peraih penghargaan Pulitzer dalam tulisannya di The Independent mengungkapkan bahwa senjata api, terutama AK-47 yang banyak dimiliki oleh para penjahat, kelompok bersenjata, dan teroris berasal “reruntuhan” Uni Sovyet. Maksudnya, senjata-senjata tersebut, berasal dari negara-negara pecahan Uni Sovyet. Senjata tersebut, jatuh ke tangan para begundal, melalui saluran ilegal dan sangat sulit (atau mustahil) untuk ditelusuri.

Ya, AK-47 merupakan “pop culture” dalam dunia kekerasan sejak dimulainya perang dingin hingga kini. AK-47, merupakan produk terkenal asal Uni Sovyet selain Vodka. Majalah Playboy bahkan memasukan AK-47 sebagai produk nomer 4 dalam daftar 50 produk yang mengubah dunia. Kalah tipis dibandingkan Macbook buatan Apple.

Chiver menuturkan, AK-47 atau Avtomat Kalashnikova atau “The Automatic by Kalashnikova” merupakan penemuan bersejarah Uni Sovyet. AK-47, menurut Chiver, merupakan bentuk keberhasilan negara komunis tersebut. 47 yang berarti tahun 1947, tahun di mana seorang prajurit militer bernama Mikhail Timofeyerich berhasil membuat senjata yang mudah, elegan, dan memiliki daya tinggi, telah mengubah jalannya dunia. Bahkan, Chiver menambahkan bahwa AK-47 memiliki kurikulumnya tersendiri kala itu. Para “pelajar” yang mempelajari AK-47, ditempa untuk bisa melucuti dan merakit kembali hanya dalam tempo 30 detik. AK-47, memang terkenal sangat mudah digunakan.

Dalam masa-masa awal, Shiver mengungkapkan bahwa senjata AK-47 dibuat hingga 10 Juta unit. Dan sedihnya, unit-unit tersebut beredar tanpa bisa dikendalikan pemerintah.Di tahun 1950an, AK-47 menjadi “mata uang politik” pemerintah Soviet pada seluruh negara-negara di dunia. Soviet, menawarkan senjata yang “ringkas, sederhana, dan mudah dugunakan” bagi negara-negara lain dalam menghadapi perangnya masing-masing. Dan karena banyak negara yang gagal dalam perang-perang yang mereka lakukan, banyak senjata-senjata ini yang kemudia “hilang” dalam radar pemerintah. Kemudian, senjata api AK-47 berlabuh pada “tuan” baru mereka, yakni para pemberontak. Dan paska runtuhnya Uni Sovyet, AK-47 juga banyak diproduksi, terutama dengan cara-cara tersembunyi. Negara-negara Eropa Timur seperti Albania, Armenia, Bulgaria, Polandia, Rumania, dan tentu saja Rusia merupakan negara-negara utama dalam produksi Ak-47. Negara (lain) seperti Cina, Jerman Timur, Mesir, Hungaria, Iran, Irak, Korea Utara, dan Amerika Serikat juga memproduksi Ak-47. Mayoritas, bahkan hingga kini pun, peredaran AK-47 lebih banyak dilakukan melalui jalur rahasia.

Shiver menuturkan kembali, di banyak negara, terutama negara-negara konflik, AK-47 menjadi semacam pusaka keluarga. Dalam dunia “berkebudayaan kekerasan” AK-47 adalah sebuah alat yang mempu memberikan “ketentraman” bagi para pemiliknya.

Selanjutnya, dikutip dari The Washington Post, Jonah Leff, seorang peneliti di bidang distribusi senjata menambahkan perihal asal senjata yang dimiliki kelompok-kelompok ilegal. Ia menuturkan bahwa “ada banyak senjata yang berasal dari Cina, sedikit dari Iran ... yang tiba di (negara-negara) Afrika.” Senjata-senjata tersebut, digunakan oleh kelompok-kelompok bersenjata, dalam melakukan aksi-aksi teror yang mencemaskan masyarakat sipil.

Selain itu, Rachel Stohl, seorang peneliti dari The Stimson Center, seperti dikutip dari The Washington Post menuturkan bahwa senjata-senjata yang ada di tangan para begundal, berasal dari negara-negara “runtuh.” Ia merujuk pada Libya yang ambruk dan membuat sstem persenjataan mereka, bisa berada di tangan-tangan ilegal.

Mischael Fleshman, seperti yang diberitakan oleh media internal Perserikatan Bangsa-Bangsa merujuk “Proxy War” sebagai salah satu biang beredarnya senjata api di tangan-tangan yang tidak berhak. Proxy War merupakan perang antara negara A melawan negara B, namun si A maupun si B tidak berperang secara langsung. Si A memanipulasi C, sekutu A untuk melawan si D, sahabat B yang telah dimanipulasi juga sebelumnya. Dalam hal ini, Proxy War yang terjadi adalah antara Amerika Serikat melawan Uni Sovyet. Untuk mempersenjatai negara-negara dalam kubu Sovyet, Kremlin “memberikan” AK-47 untuk negara-negara tersebut. Lambat laun, kepemilikan senjata api ini tak terkontrol dan pada akhirnya dimiliki penjahat.

Amnesty Internasional pada tahun 2015, menyatakan bahwa terdapat 875 Juta senjata api kecil dan ringan yang beredar di seluruh dunia. Di tahun 2010, nilai senjata api dunia mencapai US$72 Milyar. Senjata api, baik legal maupun ilegal, merupakan entitas ekonomi yang bernilai besar. Salah satu asalan besar yang patut diperhitungkan saat mempertanyakan mengapa kelompok ektrimis memiliki senjata adalah, karena toh mereka juga membayar untuk senjata yang dimiliki. Senjata, adalah bisnis besar yang menggiurkan siapa saja.

Senjata api, beredar dengan “mudahnya” pada kelompok-kelompok yang tidak berhak. Berlindung di belakang negara ambruk, proxy war, dan bisnis, senjata-senjata yang seharusnya “hanya” dikuasai aparat, jatuh ke tangan yang tidak berhak. Kalau sudah begini, bagaimana nasih masyarakat sipil, apakah mereka pula harus bersenjata api?


Baca Juga

    Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!
    Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"
    Apa yang Telah Dilakukan Obama?

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16