Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!

Dipublikasikan pada : 2016-11-22

Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!

Ilustrasi © Madzae


DC berulah lagi. Setelah beberapa waktu pernah berujar bahwa Suicide Squad hanya memiliki satu versi, kali ini fakta berkata lain.

Suicide Squad memiliki versi “Director’s Cut” yang tentu saja berbeda dibandingkan dengan versi resmi di bioskop. Dan setelah gue tonton versi sang sutradara tersebut, terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Versi “Director’s Cut” lebih baik daripada versi bioskop yang bahkan Rotten Tomatoes memberi rating yang cukup buruk.

Masalah editing dalam film-film DC ini memang bukan pertama terjadi. Seenggaknya, gue udah nonton tiga film DC yang memiliki versi berbeda, antara versi bisokop dan versi kepingan DVD atau Blueray.

Pertama yakni Watchmen. Film absurd tantang superhero ini, memiliki versi yang berbeda dibandingkan rilisan di bioskop. Banyak momen-momen yang seharusnya ada, guna membingkai cerita, dipermak oleh pihak studio. Beberapa temen gue yang nonton film ini, merasa kebingungan tentang jalan ceritanya.

Kedua, termasuk yang terheboh, adalah Batman v Superman: Dawn of Justice yang memiliki versi berbeda, antara bioskop dan keping DVD.

Tidak tanggung-tanggung, perbedaan antara rilisan bioskop dan DVD mencapai 30 menit. Saat gue melihat reaksi orang-orang setelah menonton di bioskop, banyak yang kecewa dengan film ini. Bahkan, rating Batman v Superman anjlok dan ditinggalkan jauh oleh Batman versi Nolan.

Saat keping DVD dirilis dan menambahkan embel-embel “Director’s Cut”, respon yang diberikan sangat baik. Penonton, suka dengan film ini.

Batman v Superman, seakan-akan memiliki dua film yang berbeda dalam satu wujud yang sama.

Nah yang terbaru adalah Suicide Squad. Perbedaan antara versi bioskop dengan “Director’s Cut” mencapai 13 menit (kalau ngga percaya, itung sendiri ya).

Di versi sutradara ini, banyak adegan-adegan Joker yang tidak dimasukkan ke dalam versi bioskop. Sialnya, selama masa promosi film ini, Joker seakan menjadi magnet yang sering digembar-gemborkan.

Nah, salah satu yang membuat kecewa penonton film ini di bioskop adalah, mereka tidak mendapatkan porsi Joker sebanyak yang mereka lihat di video-video promosi film ini.

Tentu ada hal-hal yang mendasar yang tidak bisa kita saksikan di film versi bisokop dibandingkan versi sang sutradara. Dan hal tersebut, adalah kerugian besar bagi penonton sekaligus seorang konsumen.

Gimana rasanya lo beli Indomie kalau ternyata di dalam bungkus mi instan tersebut ngga ada bumbunya? Atau gimana perasaan lo ketika makan nasi goreng dan abang-abangnya ngga ngasih kerupak? Sakit kan. Nah itulah yang dilakukan DC kepada penontonnya.

13 menit, 30 menit, atau berapa pun menit yang hilang dalam film, merupakan suatu tindak kriminal yang sangat serius. Inget bro, ini film. Satu-dua menit bisa sangat berpengaruh. Dulu gue nonton film India, ngga sampai 30 detik si pemeran uatama yang tadinya bocah ingusan, bisa jadi pria dewasa tangguh.

Dan yang harus diperhatikan DC adalah, film memiliki tempat sakral. Dan tempat sakral tersebut adalah gedung bisokop. Bukan home theatre yang harganya berjuta-juta yang ngga semua orang mampu beli. Bandingkan dengan selembar tiket bioskop yang terhitung murah dan bisa dibeli siapa pun.

Dengan menghadirkan “Director’s Cut” bagi penonton film-film DC, rasanya mereka sedang mengubur bisnis mereka sendiri. Alih-alih orang-orang akan berbondong-bondong datang ke bioskop menonton film favoritnya tayang, kan lebih baik tunggu rilisan DVD yang menghadirkan film versi komplit.

Dan terakhir, kok rasa-rasanya DC mirip-mirip sama Apple soal strategi bisnis mereka. Apple menghilangkan banyak port di MacBook maupun iPhone lalu menjual berbagai macam konverter yang harganya ngga murah. DC menghadirkan dua versi dari satu film mereka.

Sungguh-sungguh keji perusahaan ini.


Baca Juga

    Melihat Kondisi Media Dari Kacamata SpongeBob
    Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia
    Meskipun Diblokir Telkom, Netflix Tetaplah Pilihan Terbaik

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16