Cina dan Ambisi Global

Dipublikasikan pada : 2016-12-21

Cina dan Ambisi Global

Ilustrasi © Madzae


Akhir-akhir ini, sering sekali gue dengar tentang Cina. Namun, tentu jauh lebih banyak yang membicarakan sisi negatifnya daripada sisi positif. Mulai dari isu tentang pekerja Cina yang menyerbu Indonesia, sentimen-sentimen SARA tentang Cina, hingga uang Rupiah baru yang dianggap mirip dengan Yuan dari Cina.

Gue pun ingat, saat Jokowi berjabat tangan dengan Cina dalam melakukan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, banyak nada sumbang terdengar di tengah masyarakat. Indonesia, konon “menjual” negerinya kepada Cina. Investasi Cina terhadap perkereta-apian di tanah air, dianggap sebagai suatu cara negeri tersebut ingin mendikte Indonesia. Namun, benarkah demikian? Jawabannya adalah tidak!

Di tahun 1970an, American Motors Corporation membuka pabrik pembuatan mobil Jeeps di Beijing untuk pasar ekspor. Australia dan Jepang adalah target pasar penjualan mobil “made in China” tersebut. Dan perusahaan tersebut, adalah perusahaan pertama asal luar negeri yang membuka pabriknya di Cina. Setelahnya, perusahaan-perusahaan besar lainnya, berbondong-bondong membuka pabrik di Cina. Coba sebut perusahaan besar dunia yang tidak memiliki pabrik di Cina? Sekarang, label “made in Cina” hampir pasti ada di setiap barang-barang kebutuhan konsumen.

Paska kebijakan membuka pintu ekonominya, Cina kini adalah raksasa ekonomi dunia. Kini, mereka memiliki uang sekitar $4 Trilyun dalam bentuk berbagai mata uang dunia. Dan menurut Dr. Zao Changhui, petinggi China Export Import Bank, menyatakan bahwa Cina menyiapkan uang senilai $3 Trilyun untuk digunakan memberi pinjaman bagi setiap negara-negara di dunia.

Ya, Cina kini memang menjadi negara pemberi pinjaman. “Negara-negara Amerika Latin sangat menarik dalam beberapa tahun ini, tapi dalam puncak (pemberian pinjaman) negara-negara di Asia dan Afrika adalah prioritas kami” ucap Dr. Zao. Dalam soal memberikan pinjaman, Cina tidak pernah main-main. Bahkan, Cina kini menjadi negara pemberi pinjaman terbesar di dunia. “Tahun lalu Cina memberikan pinjaman jauh melebihi Bank Dunia” ucap Jami Metzl dari Asia Society.

Pemberian pinjaman dari Cina juga berbeda daripada pemberian Bank Dunia. Cina memberikan uang bagi siapa saja yeng membutuhkan, tanpa embel-embel apa pun. Sedangkan Bank Dunia, memberi “syarat dan ketentuan” dalam tiap transaksi pinjaman yang mereka berikan.

Kamboja, negeri yaang dalam masa pembangunan tersebut, membutuhkan uang sekitar $600 juta. Awalnya, Bank Dunia memberikan mereka penawaran pinjaman senilai uang yang dibutuhkan tersebut. Namuan, Bank Dunia menghendaki Kamboja untuk melakukan kebijakan-kebijakan transparansi, anti korupsi, dan keterbukaan. Dan ya, Kamboja menjawab “go to hell” pada Bank Dunia. Sehari kemudia, Kamboja memperoleh pinjaman $601 juta dari Cina. Tanpa syarat dan ketentuan apa pun.

Cina memiliki banyak uang. Ekonomi negeri mereka yang membara, membuat Cina mampu melakukan hal tersebut. Di tahun 2010, Bank Dunia mengeluarkan uang senilai $11.4 Milyar bagi 36 negara di Afrika. Coba tebak berapa uang yang diberikan Cina? Ya, Cina memberikan pinjaman $13 Milyar. Ups, uang tersebut hanya diberikan pada Ghana dan belum termasuk pada negara-negara lain di Afrika.

Yuan Cina telah menggantikan Dolar dalam berbagai sendi kehidupan bagi negara-negara yang ia bantu. Pembangunan jalan, jembatan, sumber energi, dan pabrik-pabrik dibantu oleh Yuan. Asumsi bahwa Presiden Jokowi patuh kepada Cina nampaknya salah besar. Cina memberikan uangnya ke banyak negara, bukan cuma Indonesia dan ingat, tidak ada “syarat dan ketentuan.”

Mengapa hal demikian terjadi? Seperti yang telah gue singgung di atas, pemberian pinjaman dari Cina tidak mengenal “syarat dan ketentuan.” Alih-alih memberikan uang, Bank Dunia secara tidak langsung juga turut mengontrol negara yang diberinya dana. Negara mana yang mau meneria syarat seperti pemberlakuan demokrasi, transparansi, giat dalam melakukan anti korupsi, dan berbagai ketentuan lainnya. Hal tersebut tentu cukup mengganggu bagi tiap negara mana pun di dunia. Cina tidak demikian. Mereka hanya memberikan pinjaman berupa uang, mayoritas dalam bentuk Dollar dan sebagian Yuan. Mata uang yang terakhir gue sebutlah yang menjadi titik tembak pemberian pinjaman dari Cina bagi banyak negara di dunia.

Negara-negara yang butuh uang memang membutuhkan uang. Tidak bisa ditawar. Mereka membutuhkan uang guna memotar roda ekonomi negerinya masing-masing. “Tanpa organisasi internasional, tanpa investasi asing, tanpa pasar internasional, mereka harus melihat sisi lain. Dan ya, Cina ada di sana.” Cina seakan menjadi negeri penyelamat bagi banyak negara di dunia tanpa harus berurusan dengan Bank Dunia yang bertele-tele dan mencakar juga sisi personal negera-negara tersebut.

Cina juga tentunya memiliki tujuan dalam tiap pemberian pinjaman tersebut. Mereka ingin menguasai dunia. Mereka ingin menggantikan Amerika Serikat sebagai negeri adidaya. “Permasalahan kini adalah kita mencoba mengganti imperialisme Amerika Serikat dengan imperialisme Cina” ucap Alberto Acosta, mantan menteri di Ekuador yang negerinya juga mendapatkan uang dari Cina.

Dolar, yang bertahun-tahun mendominasi dunia, kini mulai terkikis oleh Yuan. Dolar, seperti yang kita ketahui, dikendalikan oleh Amerika Serikat. Dengan menjadi mata uang dunia, banyak hal bisa terjadi. Amerika Serikat sebagai pemilik Dollar, mampu melakukan apa pun dengan uangnya tersebut. Ekonomi dunia, mampu Amerika Serikat manipulasi dengan hanya memanipulasi Dolar. Cina, ingin merusak hegemoni tersebut. Ia ingin menggantikan Dolar dengan Yuan. Saat Yuan menjadi mata uang dunia, saat itulah hegemoni Cina benar-benar menjadi nyata. Dengan jalan memberikan pinjaman bagi tiap negara di dunialah, Cina tempuh.

Dengan uang yang mereka miliki, Cina bukan hanya membiayai pembangunan energi dan investasi di negeri-negeri di seluruh dunia, mereka juga membiayai pengaruhnya sendiri terhadap negeri-negeri tersebut. Apa yang terjadi di Indonesia, hanyalah sebuah butiran kecil yang juga dialami semua negara di dunia.

Untuk saat ini, gue teramat yakin bahwa investasi Cina bagi semua negara di dunia termasuk Indonesia, bukanlah perkara yang harus dipusingkan. Biarlah kita nikmati manisnya Yuan untuk membangun negeri ini. Persoalan Cina yang ingin menguasai dunia, nampaknya telah dipikirkan oleh Amerika Serikat. Tentu negara adidaya tersebut tidak ingin pengaruhnya lenyap oleh Cina.

Tapi nampaknya, alih-alih memukul balik Cina, Amerika juga kecipratan manisnya Yuan. “Kami berikan $10 Trilyun pada anak-anak kami, separuhnya kami pinjam dari Cina” ucap John McCain, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Mau apa lagi, Yuan memang manis. Semua negara, merasakan manisnya tersebut. Lalu, kenapa Indonesia dipermasalahkan?


Baca Juga

    Memahami Kemajuan Jerman
    Dan Majalah Time Memilih
    Mempertanyakan Debat Kandidat

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16