Cara Google Menguasai Dunia Maya

Dipublikasikan pada : 2017-01-18

Cara Google Menguasai Dunia Maya

Ilustrasi © Madzae


Setiap hari, mesin pencari Google memproses 3,5 Milyar pencarian. Artinya, setiap detik, ada sekitar 40.000 pencarian kata kunci yang dimasukan netizen di kolom pencarian Google. Terlihat hebat dan digdaya bukan? Tapi tunggu dulu, gue mau ngasih tahu senjata yang jauh lebih berbahaya yang dimiliki Google daripada mesin pencarinya. Apa itu? Google Analytics.

Zaman kiwari, tentu berbeda dengan zaman dahulu, saat A.H.J Lovink menjadi komisaris tertinggi di bumi Nusantara. Di zaman ini, data sangat penting untuk melakukan langkah apa pun. Bagaimana sebuah perusahaan bisa tahu apa yang dikehendaki client-nya atau konsumennya tanpa memiliki data yang valid dan baik? Tentu yang terjadi adalah keputusan yang salah dan mungkin berakibat pada berhentinya perusahaan tersebut. Dan ya, data tak hanya digunakan perusahaan. Pemerintah, lembaga swadaya, organisasi, dan elo juga harus pakai data kalau mau ngedeketin cewe, iya ngga?

Di dunia maya pun tak berbeda dengan dunia nyata perihal data. Untuk membuat sebuah website yang dikunjungi jutaan netizen di seluruh dunia dan membuatnya betah berlama-lama menikmati konten atau fitur yang diberikan, perlu data yang hebat untuk menunjang itu semua. Di situlah Google Analytics berperan.

Google Analytics adalah “alat” yang dimiliki Google dan dibagikan kepada website manapun di seluruh dunia yang mau memakainya, termasuk blog ini. Google Analytics, menangkap data semisal alamat IP, tipe dan jenis browser atau perambah, ISP yang digunakan, kota, negara, waktu kunjungan, dan apa saja yang di-klik, dan dari mana saja netizen.

Data-data yang berhasil ditangkap Google Analytics, diproses dan hasilnya bisa dijadikan referensi bagi pemilik website untuk menentukan arah kebijakan mereka.

Misalnya, blog ini. Dari sekian banyak postingan yang dipublikasikan, pengunjung blog ini jauh lebih senang membaca tulisan-tulisan bertema teknologi. Dari data tersebut, gue bisa mengambil kebijakan langkah selanjutnya yang mungkin gue lakukan. Pertama, gue perbanyak konten bertema teknologi agar pengunjung lebih senang saat berkunjung di blog ini. Atau, gue tingkatkan kualitas tulisan-tulisan non-teknologi di blog ini untuk menarik pengunjung yang kurang suka dengan tulisan-tulisan teknologi. Dengan kata lain, gue menginginkan diversifikasi di blog ini. Hebat bukan Google Analytics.

Sialnya atau lebih tepat, beruntungnya Google, data-data tersebut bukan hanya milik website atau blog yang menggunakan Google Analytics. Ya, Google juga memiliki data tersebut. Wajar lah ya.

Google Analytic adalah sebuah bagian dari Goolge itu sendiri. Google Analytic awalnya adalah sebuah software yang dikembangkan oleh Urchin Software Corporation. Software tersebut berguna untuk menjaring data dari sebuah website dan menganalisanya. Google tertarik dengan software tersebut dan kemudian, di tahun 2005 Google membelinya. Kemudian, Google mentransformasi Urchin Software menjadi Goolge Analytics yang kita kenal sekarang. Dengan alat ini, Google bagaikan memiliki jaring data yang dengan sukarela, ditempatkan oleh para pemilik website di seluruh dunia. Yup, Google tak memberikan uang sepeserpun bagi pemilik website yang menggunakan Google Analytics, padahal mereka telah menjadi semacam magnet data bagi Google. Termasuk blog ini.

Mengapa? Karena Google akan berdalih bahwa Google Analytics dimaanfaatkan oleh si pemilik website dalam mengambil keputusan untuk website-nya. Meskipun kita tahu, Google pun mengambil keuntungan dari sini.

Dikutip dari E-Nor, di tahun 2011, 45 persen perusahaan-perusahaan Fortune 500 menggunakan Google Analytics bagi website-website mereka. Di tahun 2012, angkanya meningkat menjadi 51 persen. Dan di tahun 2013, 63 persen perusahan-perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 menggunakan Google Analytics.

Techcrunch di tahun 2012, mengutip omongan Chief Business Officer Google, Nikesh Arora, mengungkapkan bahwa Google Analytics digunakan lebih dari 10 Juta website di seluruh dunia. Marketing Land, di tahun 2015 mengungkapkan bahwa Google Analytics digunakan lebih dari 29,3 Juta website di seluruh dunia. Lebih lanjut, BuiltWith mengungkapkan bahwa 63,5 persen website yang tergabung dalam “10.000 besar website dunia,” menggunakan Google Analytics sebagai alat analisa mereka.

Dari data-data tersebut, Google memiliki lebih dari cukup senjata untuk menguasai dunia maya. Mereka tahu apa yang benar-benar dikehendaki netizen di seluruh dunia. Konten atau postingan apa yang netizen suka, browser apa yang mereka gunakan, kota mana yang ramai dengan lalu-lintas internet, dan beragam data lainnya yang bisa diperoleh melalui alat analisa milik Google tersebut.

Dengan demikian, kata kunci Google menguasai dunia maya melalui produknya bernama Google Analytics adalah “tingkah laku.” Google tahu tingkah laku kita di dunia maya. Percayalah! Dengan mengetahui “tingkah laku” netizen di seluruh dunia, Google bisa mengambil keputusan yang strategis untuk melanggengkan bisnis mereka.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan website yang tidak menggunakan Google Analytics untuk menganalisa pengunjung website mereka? Jawabannya cukup mudah, Google memiliki Google Adsense, sebuah agensi periklanan dunia maya yang dimiliki Google.

Google Adsense mengubah lalu-lintas sebuah website, menjadi uang bagi si website tersebut. Dan tentu saja, website yang bergabung dalam program ini, harus memasukan kode tertentu, yang berarti juga membolehkan Google memasang jaring penangkap data.

Dan ya, hampir semua website memanfaatkan Google Adsense untuk memperoleh pendapatan dari konten-konten yang mereka publikasikan.

Dengan kekuatan Google Analytics dan Google Adsense, Google miliki amunisi yang jauh dari cukup untuk mengusasi dunia maya. Mengetahui bagaimana netizen berinteraksi dengan internet, berinteraksi dengan website yang saban hari mereka kunjungi, dan berinteraksi dengan konten-konten yang mereka lihat. Jika Google Search digunakan untuk memahami netizen dalam konteks “lokal” Google sendiri, Google Analytics dan Google Adsense digunakan untuk memahami netizen secara “global,” secara menyeluruh dalam dunia maya yang tanpa memiliki batas administrasi negara itu.

Kekuatan inilah yang tidak dimiliki Apple, Microsoft, dan berbagai perusahaan lainnya di dunia. Meskipun Coca-Cola adalah produk yang paling populer di dunia, mereka teramat susah untuk menjaring data dari masyarakat sebagai basis utama pelanggannya. Atau, meskipun Telkomsel tahu bagaimana tingkah laku pelanggannya, angkanya terlalu kecil jika dibandingkan apa yang dimiliki Google. Dengan kata lain, Google adalah jenis perusahaan selanjutnya. Google adalah masa depan.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, apakah Google bisa dikalahkan?


Baca Juga

    Banjir dan Ritus Orang Urban
    Dan Majalah Time Memilih
    Kapitalisme Telanjang di Dunia Maya

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16