Bumi Berubah

Dipublikasikan pada : 2017-01-03

Bumi Berubah

Ilustrasi © Madzae


Akhir-akhir ini, cuaca di Bandung terasa panas. Padahal, musim hujan telah merata hadir di kota yang dipimpin Ridwan Kamil ini. Alih-alih misalnya membeli cuanki untuk menemani dinginnya Bandung, gue lebih suka menyeruput es teh sepanjang hari.

Apakah dunia telah berubah? Iya, jika kita mengaitkannya dengan perubahan iklim atau “climate change.”

Perubahan iklim adalah perubahan pola cuaca secara statistikal dalam periode waktu tertentu. Perubahan iklim terjadi oleh banyak sebab. Proses biotik, radiasi matahari, pergeseran lempeng tektonik, gunung meletus, dan terakhir (yang dianggap sebagai penyebab utama) perbuatan manusia, adalah sebab-sebab perubahan iklim yang terjadi di bumi kita tercinta ini.

Jim Yong Kim, Presiden Bank Dunia seperti yang dikutip dari Reuters mengatakan bahwa 97 persen ilmuan di dunia setuju dengan perubahan iklim yang memang ada dan nyata. Hal tersebut merupakan sebuah respon pada pihak-pihak yang meragukan adanya perubahan iklim.

Banyak anggapan bahwa isu perubahan iklim hanyalah karangan semata. Biasanya, orang-orang yang bicara demikian adalah orang-orang yang enggan mengurangi emisi karbon. Emisi karbon, banyak dihasilkan oleh industri dan negara-negara besar di dunia. Percaya perubahan iklim dan berupaya menghambatnya berarti harus mau mengurangi frekuensi emisi karbon. Pengurangan emisi karbon berarti mengambat laju industri. Dengan catatan, industri yang ada saat ini, tidak berupaya mengubah cara mereka bekerja.

NASA, lembaga antariksa paling kece di dunia, dalam sebuah penelitian terhadap 235 danau di seluruh dunia selama 25 tahun dan dipubikasikan di bulan Desember 2015 mengatakan bahwa memang terjadi perubahan iklim. Dan dananu-danau yang diteliti tersebut, mengalami kenaikan suhu.

Kenyataan bahwa perubahan iklim memang benar-benar terjadi dan bukan isu rekaan semata juga diperkuat oleh Menteri Sains India. Ia mengatakan “(cuaca) ini bukan hanya panas karena musim kemarau tidak biasa, tapi ini adalah perubahan iklim.” Ia merujuk pada kondisi musim kemarau di India pada Juli 2015 yang menewaskan hingga 2.500 orang seperti dikutip dari Reuters.

Istilah “climate change” atau perubahan iklim bukanlah barang baru. World Meteorological Organization (BMKG-nya dunia) menggunakan istilah tersebut di tahun 1966. Artinya, fenomena ini adalah fenomena yang telah hadir bertahun-tahun dan terus membayangi kehidupan umat manusia di seluruh dunia.

“Semua negara akan merasakan efek dari menghangatnya bumi, tapi negara-negara miskinlah yang akan merasakan dampak terberat. Kelangkaan pangan dan naiknya permukaan air laut (adalah dampak pemanasan global)” ungkap Bank Dunia dalam keterangan Pers yang dikuti dari Reuters.

“Kita tidak akan mengakhiri kemiskinan jika kita tidak mengentikan perubahan iklim” ujar Kim menambahkan.

Perubahan iklim memang segaris dengan kesengsaraan. Dan tentu, negara-negara miskin adalah negara-negara yang paling sengsara. WaterAid di bulan November 2015 mengatakan bahwa telah disetujui dana sebesar 15 persen dari $21.1 Milyar untuk menanggulangi perubahan iklim di seluruh dunia. Sayangnya, sedikit dari uang tersebut yang disalurkan bagi negara-negara miskin.

Negara-negara miskin akan mengalami dampak yang mengerikan jika isu perubahan iklim tidak segera ditangani. Naiknya permukaan air laut beberapa centi saja, bisa menyebabkan kelangkaan pangan dan hilangnya daratan tempat tinggal mereka. Tercatat, 650 juta orang hidup tanpa akses air bersih dan 1.2 Milyar orang hidup dalam kelangkaan air. Perubahan iklim, akan memperparah keadaan demikian.

Indonesia, sebagai negara berkembang dan negara kepulauan juga akan merasakan dampak dari perubahan iklim. Banyak kota-kota dan pulau-pulau di Indonesia akan hilang ditelan naiknya permukaan air laut karena perubahan iklim.

Jelas, perubahan iklim tidak hanya menghantui negara-negara dunia ketiga. Negara kaya dan dunia bisnis juga akan terkena dampaknya.

Inter-American Development Bank mengungkapkan bahwa negara-negara di wilayah Amerika Latin dan Karibia diperkirakan harus kehilangan $100 Milyar per tahun mulai 2050 jika temperatur naik hingga 2 derajat celcius. Angka fantastis tersebut merujuk pada hilangnya pendapatan dari bisnis agrokultur yang menjadi andalan negara-negara tersebut jika perubahan iklim tidak segera ditangani.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Mercer dan didukung oleh International Finance Corporation, Bank Dunia, Pemerintah Inggris dan Pemerintan Jerman mengungkapkan bawa dunia investasi harus segera memasukan instrumen “climate change” bagi portofolio mereka. Investasi di ranah pertambangan, diperkirakan akan jatuh hingga 74 persen jika perubahan iklim tidak ditanggapi serius.

Langkah nyata dan berkelanjutan adalah proses yang tidak bisa ditawar lagi. Perubahan iklim memang nyata terjadi di dunia. Dan untungnya, banyak negara di dunia telah memulai inisiatif menghalau perubahan iklim. Di California, Amerika Serikat, 11 Negara bagian dan provinsi yang tersebar di seluruh dunia menyepakati untuk mengurangi emisi karbon hingga 90 persen di tahun 2050 yang menjadi sebab perubahan iklim.

Indonesia, sebagai negara yang memiliki potensi negatif yang besar dari perubahan iklim haruslah juga ikut mencanangkan program-program pro lingkungan. Kebakaran hutan dan industri yang tidak ramah lingkungan, haruslah segera diatasi dengan baik.


Baca Juga

    Hey, Kami Menjual Tradisi!
    Mari Berkenalan Dengan Google DeepMind, AI yang Bisa Bermimpi
    Mempertanyakan Debat Kandidat

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16