Borg, Sistem Operasi di Belakang Google

Dipublikasikan pada : 2016-12-06

Borg, Sistem Operasi di Belakang Google

Ilustrasi © Madzae


“Bergabung dengan Google seperti menelan pil berwarna merah dalam film Matrix” ucap John Wilkes, teknisi Google seperti dikutip dari Wired.

Ucapan Wilkes bukan sekedar omong kosong seorang pegawai yang memuji setinggi langit tempatnya bekerja. Dengan bergabung dengan Google, Wilkes tahu bahwa perusahaan tersebut menggunakan suatu sistem operasi, selayaknya Windows 10 atau Ubuntu bagi kita, yang sangat canggih.

Sistem operasi canggih tersebut bernama Borg.

Borg, sebelum terbogkar ke dunia luar, adalah rahasia paling dijaga oleh Google. Borg merupakan sistem operasi yang menjalankan ribuan mesin di balik Google dengan sangat efisien dan sangat mudah. Coba sebut apa saja layanan Google yang lo pakai? Gmail, Google Maps, Youtube, dan tentu saja Search, dijalankan oleh sistem operasi tunggal yang mengkomandoi ribuan server milik Google. Dan itulah tugas utama Borg.

Karena sifatnya yang rahasia, Google hingga kini masih enggan menyebut sistem operasinya tersebut, Borg. “Sistem yang tak diberi nama” ujar Wilkes mengomentari keengganan Google memakai nama bagi senjata utama mereka. Kenapa enggan memakai nama? Jawabannya adalah agar orang-orang tidak bisa mengetikkan nama tersebut di kolom pencarian Google.

Borg merupakan otak bagi Google. Tempat di mana semua layanan Google dijalankan. Alih-alih membangun sistem sendiri-sendiri atau melakukan virtualisasi bagi layanan-layanan Googgle yang saban hari kita nikmati, Google menempatkan kesemuanya dalam satu sistem tunggal Borg.

Borg memiliki ide yang kedengarannya sederhana, namun rumit dalam pengaplikasiannya. Borg mampu menjalankan software dalam jumlah yang masif, menghubungkan dengan pusat data, dan menampilkan kemudahan bagi para penggunanya. Coba tebak, berapa jumlah pengguna internet dunia yang saat ini sedang meng-Googling kata kunci sesuatu? Jutaan atau bahkan milyaran permintaan. Dan ya, kita ngga harus ngantri kan untuk mendapatkan hasil dari kata kunci yang kita inginkan.

Selain mampu menjalankan software yang banyak, mengkonsolidasikan dengan pusat data, serta menampilkan kemudahan bagi pengguna, Borg ternyata sangat efisien. Dengan menggunakan Borg, Google menghemat sangat banyak uang. Google tidak perlu membangun sistem yang banyak. Satu Borg, dan itu sudah cukup.

Hingga hari ini, Borg telah berusia 13 tahun. Google, sekarang sedang membangun penerus sistem operasi canggih tersebut dengan nama sandi, Omega. Oiya, saat Borg diketahui publik, usianya sudah mencapai 10 tahun.

Adalah 3 teknisi Twitter yang juga mantan teknisi Google bernama John Sirois, Travis Crawford, dan Bill Former yang saat itu sedang menghadiri suatu presentasi penelitian dari seorang bernama Ben Hindman dan dalam hati mereka mungkin meluap suatu kegembiraan melihat versi “kembaran” Borg dari Google yang mereka rindukan.

Mesos merupakan versi tiruan dari Borg. Dan menurut beberapa ahli, Mesos merupakan generasi jadul dari Borg. Tapi tetap saja, Mesos menghadirkan segudang keistimewaan ala Borg.

Mesos lahir di dalam suatu labolatorium penelitian di University of California at Berkeley. Hindmand adalah mahasiswa doktoral dan peneliti di laboratorium komputer tersebut. Ialah salah satu pencipta Mesos, sang “adik tiri” dari Borg.

Mengapa disebut sebagai adik tiri Borg, bukankah yang membuat Mesos adalah ahli dari Berkeley? Jawabannya adalah, Google ternyata menjadi donatur terbesar dari proyek yang digarap oleh Hindman tersebut. Belakangan, Hindman diketahui sering ditemui teknisi Google untuk mendiskusikan penelitiannya tentang Mesos tersebut dan tentu saja teknisi-teknisi Google yang sering menemui Hindman tidak pernah menyebut apa pun tentang Borg.

Kisah selanjutnya, pucuk di cinta ulam pun tiba. Pasca ketiga teknisi Twitter bertemu Hindman, mereka mengajak Hindman untuk menjadi bagian dari Twitter. Dan Hindman, membuat sistem operasi Mesos bekerja untuk Twitter. “Messos membuat teknisi Twitter mudah untuk berpikir menjalankan aplikasi mereka dan mengkonsolidasikannya dengan pusat data” terang Hindman kepada Wired. Twitter, dalam skala yang lebih kecil, menjalankan Borg alias Mesos untuk kelangsungan hidup mereka.

Oke, dari tadi kita berbicara tentang Borg, Mesos, DC/OS, dan hal-hal terkait lainnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana sih bentuk komputer atau mesin yang menjalankan Borg? Dengan kemampuan yang sangat istimewa, Borg harusnya kan menggunakan sistem yang sangat canggih? Tentu, lo ngga usah ngebayangin sesuatu yang gede banget atau apa pun yang rujukannya kira-kira ke sana. Bayangkan sebuah Chip yang mengandung banyak prosesor (ingat tagline “intel inside”). Nah sebuah chip dengan banyak prosesor tentu dapat menjalankan pekerjaan secara paralel. Akibatnya, pekerjaan akan mudah tertangani.

Chip tunggal dengan 64 atau 128 prosesor, rasanya seperti memiliki komputer sebanyak 64 atau 128 juga bukan? Bedanya, chip hanya memerlukan daya yang sedikit dibandingkan dengan komputer yang banyak. Nah kira-kira begitulah mesin yang menjalankan Borg atau Mesos. Secara ukuran tidaklah besar, tapi secara kemampuan, memang sangat besar.

Kabar tentang Borg, Mesos, dan seputaran itu, berkembang di kalangan teknisi perusahaan-perusahaan dunia. Konsep DC/OS atau Data Center Operating System banyak diminati orang. Mesos yang merupakan proyek di Berkeley, memiliki anak kandung dalam dunia open source atau sumber terbuka bernama Mesosphere.

Mesosphere banyak membantu perusahan-perusahaan teknologi dunia, sebut saja Airbnb, Yelp, Netflix, Autodesk, dan tentu saja si brengsek Apple menggunakan sistem seperti Google tersebut. “Sangat mirip Borg” ucap Stoppelman teknisi Google yang melihat Borg, Mesos, Mesosphere dan keadaan di perusahan-perusahaan teknologi dunia lainnya.

Alex Polvi, seorang wiraswasta teknologi yang mendirikan perusahaan rintisan bernama CoreOS membuat tagline #GIFEE atau Google Infrastructure For Everyone Else. Ia membuat usaha rintisan di bidang penyediaan infrastruktur perangkat lunak yang mirip dengan Google kepada startup-startup lainnya. Rahasia Google, telah menjadi bagian revolusi internet yang sangat besar.

Dan karena rahasianya telah diketahui publik, memiliki saudara tiri, dan banyak diaplikasikan oleh perusahaan lain, Google akhirnya memberi lampu hijau bahwa mereka memang memiliki sistem operasi bernama Borg. Namun, alih-alih menggunakan kata “Borg”, Google lebih memilih kata “Kubernetes” untuk merujuk pada DC/OS.

Padahal, menurut pengakuan beberapa mantan teknisi Google dan Stoppelman, Kubernetes hanyalah bagian kecil dari Borg itu sendiri.

Kalau sudah begini, mending ikuti apa yang Google iklankan di televisi-televisi kita, “Oke Google, apa itu Borg?” dan mungkin Google Assistant akan memberi tahu jawaban yang lebih pasti.


Baca Juga

    Memahami "Made In China" Sepenuhnya
    Selangkah Lagi: Vaksin HIV AIDS Hadir!
    Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16