Benang Kusut Pembajakan Konten

Dipublikasikan pada : 2017-01-11

Benang Kusut Pembajakan Konten

Ilustrasi © Madzae


Kalau elo tahu nama-nama seperti Pein Akatsuki atau Lebah Ganteng, gue cukup yakin elo sering atau pernah mendownload film secara ilegal. Atau, kalau di komputer lo terintall Microsoft Office, Adobe Photoshop, Corel Draw, Autodesk Maya, WinRar, dan Internet Download Manager, gue cukup yakin bahwa elo adalah penikmat akut program komputer ilegal. Kenapa gue bisa berkesimpulan demikian? Coba elo hitung deh harga total dari software-software yang gue sebutkan. Sekaya itukah elo?

Dunia download ilegal memang menjadi semakin ganas saja setiap harinya. Apalagi tentu saja karena akses internet semakin meluas dan semakin cepat (sialnya, belum semakin murah). Dikutip dari The Gaurdian, 30 persen publik Inggris mengkonsumsi film secara ilegal. Sedangkan di Indonesia, sebagaimana dikutip dari Vice, 90 persen masyarakat tanah air menyaksikan film dan mendengarkan musik secara ilegal.

Secara garis besar, produk bajakan yang ada di internet mengerucut menjadi 3 jenis. Pertama tentu saja film, musik, dan software. Nama-nama lain seperti buku, fotografi, dan berbagai konten “bajakan-able” lainnya, hitungannya jauh daripada 3 jenis tersebut.

Arianne Fraser, CEO Highland Film, sebagaimana dimuat di Forbes, mengatakan bahwa “pembajakan menghancurkan bisnis kami!” Dalam analisis yang dipaparkan Forbes, satu salinan film bajakan, menghasilkan kerugian hingga $1,40. Jika dipersentasekan, pembajakan menghilangkan pendapatan industri film antara 10 persen hingga 19 persen.

Dikutip dari The Hollywood Reporter, industri film Hollywood mengalami kerugian mencapai $58 Milyar per tahun. Avi Lerner, Produser film Expendables 3 yang filmnya bocor ke internet 3 minggu sebelum penayangan di bioskop, dikutip dari The Guardian mengatakan “jika pembajakan berlanjut seperti ini, dalam empat atau lima tahun ke depan, akan menjadi akhir dari bisnis film independen.”

Lerner pantas bersedih. Film Expandables 3 yang dibuatnya, didownload lebih dari 70 juta kali. Saat suatu film bocor duluan ke internet sebelum jadwal penayangan tiba, keuntungan yang ada di depan mata, akan sirna dengan sendirinya.

Senada dengan industri film, industri musik Amerika Serikat menurut catatan RIAA atau Asosiasi Industri Rekaman Amerika, mengalami kerugian hingga $12,5 Milyar. Dikutip dari Forbes, pelaku indutri musik di Amerika, kehilangan 10 persen royalti mereka akibat pembajakan. Artinya, saat Katy Perry menghasilkan uang sekitar $135 Juta di tahun 2015, di tahun tersebut ia juga kehilangan uang hingga $13,5 Juta.

Lebih sedihnya lagi, selain kehilangan pendapatan dalam bentuk uang, ekonomi Amerika Serikat juga kehilangan 71.060 lapangan kerja akibat pembajakan di ranah musik tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pembajakan juga berdampak secara lebih luas daripada sekedar kehilangan uang royalti.

Lalu, bagaimana dengan dunia komputer? Pembajakan perangkat lunak, seperti dikutip dari CNET, merugikan industri teknologi hingga $34 Milyar di tahun 2005. Tiga besar negara yang melakukan pembajakan di dunia teknologi adalah Cina, Rusia, dan India. Di Cina sendiri, pembajakan software komputer mengakibatkan kerugian hingga $3,9 Milyar bagi indutri ini. Bagimana dengan di Indonesia? Menurut data, 87 persen perangkat lunak yang digunakan masyarakat tanah air adalah software bajakan.

Dalam dunia teknologi, nama-nama seperti Microsoft Windows, Microsoft Office, dan Adobe Photoshop adalah nama-nama software bajakan paling digemari masyarakat dunia.

Kerugian yang dialami pemain-pemain yang berada di industri film, musik, dan teknologi berbanding terbalik dengan para pemain di bidang website yang mempublikasikan konten bajakan. Seperti dikutip dari Vice, website-website hitam tersebut menghasilkan uang hingga $227 Juta di tahun 2013 dari pendapatan iklan. Sedihnya, pihak-pihak yang beriklan di website kotor tersebut adalah nama-nama besar seperti Ford, McDonald, AmericanExpress, dan lain sebagainya.

Kick Ass Torrent sendiri, menurut Wired menghasilkan pendapatan hingga $17 Juta per tahunnya. Sedangkan secara keseluruhan, website-website yang mempublikasikan konten bajakan, memperoleh pendapatan hingga $6 Juta per tahun. Secara bisnis, website-website semisal Ganool atau Gigapurbalingga, memiliki “profit margin” antara 80 persen hingga 94 persen. Hal demikian bisa terjadi karena website-website tersebut tidak membutuhkan modal untuk konten-konten bajakan yang mereka publikasikan.

Yang paling heboh tentu adalah Kim Dotcom. Pemilik Megaupload tersebut diperkirakan mengantongi uang hingga $500 Juta dari website yang dikelolanya.

Tentu, pembajakan bukan hanya merugikan dari sisi uang semata. Dengan pembajakan, industri film, musik, atau teknologi sendiri bisa mati karenanya.

Dalam dunia film, pembajakan membuat para pembuat film independen kehilangan peluang mereka untuk berkarya. Mengapa bisa? Pembuat film independen umumnya menggantungkan pendanaan mereka melalui skema-skema di festival-festival film, semisal Cannes atau lainnya. Di festival tersebut, mereka unjuk gigi kepada para distributor film atau pun investor film. Unjuk gigi yang dimaksud, para “film-maker” tersebut bisa hanya membawa skenario film atau pun membuat film berdurasi pendek untuk dipresentasikan. Saat ada distributor film atau investor film tertarik dan membuat kesepakatan, hasil tersebut akan “film-maker” bawa ke pihak Bank untuk mendapatkan pendanaan. Sedihnya, saat pembajakan film semakin kencang, banyak distributor film dan investor film yang berpikir panjang manakala akan membuat kesepakatan dengan pembuat film. Hal tersebut didasari oleh semakin mengecilnya keuntungan yang dapat diperoleh dari bisnis ini.

Contoh paling kongkrit dari skema yang gue jelaskan di atas adalah apa yang dialami pembuat film “Whiplash.” Film tersebut terlebih dahulu dibuatkan versi pendeknya. Saat versi pendeknya diminati dan mendatangkan pendanaan, film versi panjang dari “Whiplash” selanjutnya dibuat oleh pihak “film-maker.”

“Pembajakan menghancurkan kreator independen yang bersusah payah berkarya, termasuk fotografer, produser film, musisi, dan pembuat program (komputer).” Ujar Keith Kupfers, CEO Copyright Alliance seperti dikutip dari Forbes.

Sialnya, pembajakan memang sangat sulit untuk dibasmi. Coba bayangkan jika di Indonesia, software-software bajakan tidak ada. Banyak orang yang tidak akan pernah bisa menggunakan Microsoft Office, Photoshop, Corel Draw, atau lain sebagainya karena program-program tersebut harganya sangat mahal. Ironisnya, software-software tersebut masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia yang berarti, setiap warga Indonesia wajib menguasainya.

Bagaimana pula dengan film-film Hollywood atau film-film mancanegara lainnya yang tidak tayang di Indonesia? Tentu merupakan sebuah kerugian tersendiri bagi para penggemar film. Lexi Alexander, seorang sutradara Hollywood asal Jerman bahkan mengamini bahwa pembajakan, juga memberikan nilai positif bagi dirinya. Seperti dikutip dari The Guardian, ia mangakui menggunakan produk bajakan saat berada di Jerman karena banyak film dan serial asal Amerika yang tidak masuk ke Jerman.

Selain itu, David Abrams, mahasiswa doktoral Universitas Harvard, sebagaimana dikutip dari The Hollywood Reporter mangatakan bahwa “sangat sulit mengarahkan mereka (yang menonton film bajakan) untuk membayar $10,50 untuk (membayar) film yang mereka tonton.” Abrams nampaknya menyoroti sisi psikologis pengguna konten bajakan yang berada dalam dilema, antara menikmati secara gratis atau membayar untuk menikmati. Menariknya, “menikmati secara gratis” dapat diperoleh dengan sangat mudah. Bandingkan misalnya dengan seseorang yang hendak menikmati film secara legal. Ia harus pergi ke bioskop untuk melakukannya. Film bajakan, bahkan bisa dinikmati dengan tidak beranjak selangkah pun dari rumah.

Selain itu, mengapa konten bajakan masih dicintai banyak orang adalah bahwa orang-orang yang mendownload secara ilegal tidak menyadari dampak negatif dari perilaku yang mereka lakukan. Kehilangan pendapatan, kehilangan pekerjaan, dan dampak ekonomi lainnya, tidak nampak secara kasat mata dari konten-konten bajakan yang diunduh para penikmatnya tersebut.

Jadi, pilih produk bajakan atau legal? Pilihan pertama jelas lebih menggiurkan.


Baca Juga

    Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"
    Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook
    Memahami Konflik Suriah Secara Sederhana

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16