Apakah Facebook Membantu Kemenangan Trump (dan Mungkin Kemenangan Jokowi)

Dipublikasikan pada : 2016-11-15

Apakah Facebook Membantu Kemenangan Trump (dan Mungkin Kemenangan Jokowi)

Ilustrasi © Madzae


Kemenangan Trump dan kekalahan Hillary memicu banyak perdebatan dan spekulasi.

Hillary mengatakan bahwa kekalahannya mungkin disebabkan oleh surat yang dikirimkan direktur FBI bahwa mereka memiliki bukti baru skandal e-mail Hillary.

Namun publik memiliki spekulasi lain tentang kekalahan Hillary tersebut. Yang menjadi sebab kemenangan Trump dan kekalahan Hillary adalah: Facebook!

Facebook dianggap bertanggung jawab atas kemenangan Trump karena newsfeed atau timeline di Facebook penuh dengan berita kebohongan.

Banyak berita-berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan memenuhi timeline pengguna Facebook dan mempengaruhi penggunanya.

Hal tersebut bisa terjadi akibat dari suatu fenomena yang disebut sebagai filter buble.

Filter buble merupakan suatu algoritma dari Facebook yang sebenarnya bertujuan untuk menampilkan iklan yang relevan kepada pengguna Facebook.

Algoritma yang dibuat Facebook, mengumpulkan begitu banyak informasi dari penggunanya. Apa yang diklik, apa yang dilihat pengguna melalui browser mereka, dan diintegrasikan dengan data profil Facebook pengguna tersebut. Akhirnya, Facebook bisa menampilkan iklan yang mendekati relevan bagi tiap penggunanya.

Ambil contoh, saat gue mencari hal-hal yang berkaitan dengan “Server”, baik melalui Googling maupun langsung mengetikan alamat tujuan di web browser, ada semacam bot dari Facebook yang mencatat itu semua. Dan saat gue main Facebook, Facebook akan menampilkan iklan-iklan tentang “Server” dan sebagainya di timeline Facebook gue. Gue yakin, lo pasti pernah merasakan hal ini.

Sialnya, algoritma yang seharusnya hanya bekerja pada hal-hal yang terkait iklan, juga bekerja pada timeline Facebook secara keseluruhan.

Jadi, berita yang kita klik, status teman yang kita baca, dan berbagai macam posting yang dibagikan di Facebook dan kita klik lalu kita baca, dihimpun oleh algoritma Facebook. Selanjutnya, Facebook menampilkan hal demikian sebagai “kegemaran” kita sebagai pengguna Facebook hasil dari hitung-hitungan algoritma tersebut. Selanjutnya, Facebook secara otomatis akan menampilkan postingan-postingan terkait “kegemaran” kita tersebut.

Facebook tidak mengkurasi postingan-postingan informasi yang ada di timeline penggunanya. Akibatnya, informasi-informasi yang kurang akurat bisa terpampang di timeline kita dan kita membacanya seperti kita membaca koran di pagi hari.

Secara sederhana, filter buble hanya menampilkan sesuatu yang diyakini sebagai “kegemaran” penggunanya. Sialnya, Facebook tidak bisa membedakan mana informasi yang bisa dipertanggung jawabkan dan mana yang bukan.

Pew Research mengadakan suatu penelitian tentang dampak dari timeline Facebook terhadap penggunanya. Berikut merupakan sebagian kesimpulan kecil yang didapat Pew saat mengelaborasi dampak timeline Facebook dengan keputusan si pengguna.

"Trump continues to voice his opinion incredibly ignorantly about immigration and made my respect for him tank."

"All the videos circulating about Hillary Clinton and her email debauchery. Now I think she is even more evil and corrupt than originally thought."

"Videos of black people being murdered by police made me more angry and therefore more outspoken about Black Lives Matter."

"I saw some of my friends were animated about left-leaning things like Bernie Sanders and gay marriage. Originally I was against gay marriage and have now accepted it."

(Kalau lo ngga ngerti bahasa Inggris, pakai Google Translate aja ya).

Penelitian tersebut membuktikan bahwa ada korelasi antara isi timeline dengan keputusan pemilih di Amerika saat saat pilpres berlangsung.

Banyak kalangan mengatakan bahwa terlalu banyak informasi yang kurang akurat yang hadir di linimasa Facebook tentang Hillary yang akhirnya mengantarkan Trump meraih kemenangan.

Pendiri sekaligus CEO Facebook, Zuckerberg menolak pendapat yang menyalahkan sosial media buatannya sebagai biang kekalahan Hillary. Ia berargumen bahwa Facebook bukanlah media dan informasi yang beredar di Facebook bukan merupakan kewenangan perusahaannya. Segala yang ada di Facebook merupakan hasil berbagi antar pengguna Facebook.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, jangan terlalu percaya dengan isi linimasa Facebook lo yak.

BTW, Jokowi menang gara-gara Facebook juga ngga ya? Dan kasus Ahok yang sering muncul di timeline Facebook gimana tuh?


Baca Juga

    Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan
    Apa yang Terjadi di Harbolnas Kemarin?
    Kebenaran Palsu

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16