Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran

Dipublikasikan pada : 2016-11-28

Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran

Ilustrasi © Madzae


Data yang dipublikasikan Asosiasi Penyedia Jasa Internet dan Pusat Kajian Komunikasi Indonesia menyatakan bahwa populasi pengguna internet di Indonesia mencapai 88 juta. 49% di antaranya merupakan golongan pemuda antara 18-25 tahun.

Mayoritas pengguna internet, menggunakan smartphone. Inilah juga yang menjadi penyebab mengapa pengguna internet di Indonesia maupun dunia mengalami peningkatan yang signifikan.

Pengguna besar tentu mendatangkan pemain-pemain yang besar pula dalam dunia internet. Media-media konvensional, masuk ke ranah internet. Contohnya NET, televisi tersebut masuk ke dunia internet dengan aplikasi-aplikasi buatan mereka. Dan tayangan-tayangan mereka juga bisa ditemui di kanal Youtube.

Pengguna yang besar, pemain yang besar, tentu mendatangkan berkali-kali lipat kesempatan beriklan. Di Amerika Serikat, dalam survey yang dilakukan di tahun 2015 mencatat bahwa pendapatan iklan di ranah internet mencapai $59.6 Milyar. Angka yang sangat fantastis. Bahkan, angka tersebut mengalahkan pendapatan iklan media konvensional. Televisi hanya memperoleh $40.6 Milyar dari penayangan iklan.

Dan tentu, setiap orang benci terhadap iklan.

PageFair dan Adobe merilis hasil riset mereka tentang penggunaan ad blocking atau pemblokir iklan. Hasilnya ialah, pengguna pemblokir iklan secara global mencapai 198 juta pengguna dan mengalami peningkatan hingga 41% per tahun.

Akibat penggunaan pemblokir iklan di browser yang dipakai pengguna internet, diestimasikan di tahun 2016 ada kerugian hingga $41.4 Milyar bagi media-media internet yang mengandalkan pendapatan mereka dari iklan.

Guna lebih mendalami masalah tersebut, Madzae melakukan penelitian tatap muka terhadap pengguna internet di Indonesia. Mereka yang dilibatkan dalam penelitian ini ialah mereka yang berusia 17-24 tahun dan kesemuanya merupakan pelajar atau mahasiswa.

Hasilnya, 40% pengguna internet yang dilibatkan dalam penelitian mengungkapkan bahwa mereka akan lebih memperhatikan iklan yang tayang di media online jika iklan tersebut menarik. Selanjutnya, sebanyak 50% responden mengaku mereka tidak memperhatikan atau hanya sesekali memperhatikan iklan yang ditayangkan dalam media online. Secara lebih spesifik, kaum laki-laki ternyata lebih tidak memperhatikan iklan yang ditayangkan daripada kaum perempuan, perbandingannya yakni 82% berbanding 18%.

Salah satu yang perlu dijadikan peringatan bagi pemangku kepentingan di media online adalah responden yang mengungkapkan bahwa mereka terganggu dengan iklan yakni sebanyak 77%. Celakanya, hanya 10% responden yang mengaku terpengaruh dengan iklan dan memutuskan untuk membeli produk yang diiklankan di media online yang dikunjungi mereka.

Iklan yang tayang di media konvensional seperti TV, koran, maupun radio tentulah berbeda dengan iklan yang tayang di media-media internet.

Iklan yang tayang di internet, menambah beban kuota bagi si pengakses internet. Kecepatan akses menjadi melambat. Belum lagi iklan yang disajikan terlalu banyak dan memenuhi area penting dari website yang dikunjungi pengguna. Itulah salah satu alasan mengapa banyak pengguna internet yang memanfaatkan pemblokir iklan di perambah mereka.

Browser Chrome buatan Google menjadi yang paling terdepan bagi pengguna internet yang menggunakan pemblokir iklan. 126 Juta pengguna per bulan menggunakan adblocker di browser yang pemiliknya juga merupakan salah satu penyedia iklan terbesar di dunia.

Dalam kasus ini, tentu ada dua kepentingan yang bertolak belakang. Pengguna internet yang menginginkan tayangan iklan tidak membebani kuota dan menghalangi pendangan website kesayangan mereka, sedangkan media-media internet yang butuh iklan guna menghidupi ongkos keseharian mereka.

Bagaimana, pakai adblocker atau tidak?


Baca Juga

    Laknatnya Rusia dan Ketakutan Amerika
    Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran
    Bumi Berubah

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16